Blangkon Jogja dan Solo: Sejarah, Bentuk, dan Maknanya
- 30 Sep 2026 13:35 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Blangkon bukan sekadar penutup kepala dalam busana tradisional Jawa. Di balik bentuknya, tersimpan sejarah, identitas budaya, hingga gambaran nilai sosial masyarakat yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta.
Perbedaan blangkon Jogja dan Solo paling mudah dilihat dari bagian belakang kepala. Blangkon gaya Yogyakarta umumnya memiliki mondolan yang menonjol dan berbentuk bulat, sedangkan gaya Surakarta cenderung lebih pipih atau rata.
Perbedaan tersebut tidak muncul begitu saja. Setelah Perjanjian Giyanti 1755 membagi kekuasaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, kedua wilayah kemudian mengembangkan tradisi busana dan simbol kebudayaan dengan ciri masing-masing.
Penelitian Ayu Lukita Tiana, Maskun, dan Wakidi berjudul “Analisis Makna Blangkon Pola Yogyakarta” dalam PESAGI: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah (2013) menyebut blangkon Yogyakarta memiliki makna estetika, martabat, dan etika. Penelitian dari Universitas Lampung itu menyimpulkan bentuk blangkon yang indah dapat menambah kewibawaan pemakainya dan berkaitan dengan perilaku yang sesuai norma masyarakat.
Sementara itu, penelitian Evita Putri Yuwono, Sawitri, dan Adi Deswijaya dari Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo berjudul “Makna Di Dalam Bentuk Blangkon Gaya Surakarta Sebagai Ajaran Hidup Masyarakat Jawa” dalam Indonesian Journal of Social Science (2025), menemukan blangkon Surakarta memiliki beberapa jenis yang mencerminkan status sosial serta nilai religi, pendidikan, budaya, dan sosial.
Menariknya, perbedaan bentuk juga berkaitan dengan cara masyarakat memaknai identitasnya. Mondolan pada gaya Yogyakarta menjadi ciri visual yang kuat, sedangkan bentuk Surakarta berkembang dengan karakter yang lebih datar dan beragam sesuai jenis serta lingkungan sosial pemakainya.
Karena itu, menyebut blangkon Jogja dan Solo hanya sebagai dua model penutup kepala tentu terlalu sederhana. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan budaya Jawa yang memperlihatkan bagaimana sejarah, lingkungan keraton, status sosial, estetika, dan nilai kehidupan dapat tersimpan dalam sebuah busana yang dikenakan di kepala. (Arifin)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....