Budi Pekerti dalam Ajaran Jawa Mengajarkan Sikap Rendah Hati dan Peduli

  • 29 Sep 2026 13:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Budi pekerti dalam kehidupan masyarakat Jawa tidak hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi juga mencakup watak, sikap batin, tutur kata, dan perilaku sehari-hari. KP. Bumimaya Soeseno Renggodipuro, S.H., M.Si., Guru Sangpawara Karaton Surakarta saat dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta menjelaskan bahwa budi pekerti perlu diwujudkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan.

Menurutnya, kebudayaan Jawa mengajarkan tentang keluhuran budi yang salah satunya tercermin melalui tata krama dan sikap rendah hati atau andap asor. Seseorang perlu mengetahui batas serta mampu menempatkan dirinya ketika berhadapan dengan siapa pun. “Landep ora natoni, banter ora nglancangi, duwur ora ngungkuli, pinter ora keminter,” ucapnya.

Ungkapan tersebut mengajarkan agar seseorang tetap rendah hati meskipun memiliki kemampuan atau kedudukan yang tinggi. Landep ora natoni berarti menggunakan kecerdasan tanpa menyakiti, banter ora nglancangi berarti bertindak cepat tanpa mendahului, duwur ora ngungkuli berarti memiliki kedudukan tinggi tanpa merasa lebih unggul, sedangkan pinter ora keminter berarti pandai tanpa bersikap paling tahu.

Ia menekankan bahwa kemampuan yang dimiliki seseorang seharusnya tidak digunakan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain. “Ketika kita memiliki kemampuan lebih, jangan sampai membuat orang sakit hati, jangan melewati batas, dan tetap menaruh rasa hormat,” ujarnya.

Budi pekerti juga berkaitan dengan kemampuan merasakan perasaan orang lain atau tepa sliro. Sikap tersebut tidak berhenti pada rasa simpati, tetapi juga diwujudkan melalui empati, kepedulian, dan tindakan yang menjadi bagian dari solusi bagi orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran tersebut juga terlihat melalui subo sita, tata krama, dan kasusila. Mengetuk pintu merupakan contoh kasusila, sedangkan mengucapkan salam termasuk tata krama, sehingga seseorang perlu mampu menempatkan diri, mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, serta tidak mencampuri urusan yang bukan menjadi bagiannya, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Menurut KP. Bumimaya, penanaman budi pekerti perlu dimulai dari lingkungan terdekat karena di mana pun seseorang berada, tempat tersebut dapat menjadi sekolah kehidupan. “Di mana pun kita berada itu adalah sekolah kita,” katanya. Nilai-nilai Jawa seperti lembah manah, welas asih, eling lan waspada, serta sabar perlu diwujudkan melalui keteladanan dan kebiasaan sehari-hari agar tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perilaku. (Cahayani Inka – Komunikasi Penyiaran Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Magang RRI/Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....