Nyai Ageng Anjang Mas: Transformasi Pakeliran dalam Panggung Teater
- 29 Sep 2026 13:45 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pementasan “Nyai Ageng Anjang Mas: Estri Nganthi Wani” membawa komposisi garap pakeliran ke dalam pertunjukan teater yang lebih terbuka bagi penonton. Melalui wayang, aktor, dan pemusik, karya tersebut menawarkan pertemuan medium untuk menghadirkan pengalaman panggung yang komunikatif sekaligus kreatif.
Disutradarai oleh Andi D. Permana, Sutradara mengakomodasi konsep komposisi garap pakeliran sebagai pijakan utama dalam merancang struktur pertunjukan panggung secara menyeluruh. Pilihan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa unsur pewayangan memiliki kemungkinan diwujudkan melalui berbagai bentuk pertunjukan sesuai kebutuhan zaman.
Wayang dalam karya ini tidak ditempatkan sebagai elemen dekoratif, melainkan menjadi bagian penting dari bangunan dramatik utama pertunjukan. Aktor, wayang, dan pemusik kemudian memiliki fungsi masing-masing untuk membangun hubungan, suasana, ritme, serta perkembangan peristiwa dramatik panggung.
Eksperimentasi tersebut memperlihatkan bahwa komposisi pakeliran dapat ditransformasikan tanpa harus kehilangan karakter artistik yang melekat kuat pada tradisinya. Sunardi dan kolega menjelaskan bahwa transformasi estetika wayang dapat muncul melalui kreativitas, adaptasi penyajian, serta respons kreatif penonton.
Gagasan itu sejalan dengan penelitian Arif tentang Wayang Isekai yang mengembangkan melalui perpaduan wayang, animasi, dan aksi langsung. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan medium dapat menjadi strategi kreatif agar wayang hadir dalam pengalaman generasi masa kini.
Dalam “Nyai Ageng Anjang Mas”, transformasi bentuk bukan sekadar mengejar kebaruan, tetapi menjadi cara membaca ulang potensi pewayangan. Pertunjukan panggung dipilih sebagai ruang pertemuan tradisi dan ekspresi kontemporer agar gagasan pewayangan dapat berkomunikasi dekat kepada penonton.
Melalui proses tersebut, “Nyai Ageng Anjang Mas” menempatkan pewayangan sebagai sumber pengetahuan artistik yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Upaya ini membuka kemungkinan bagi seniman menghadirkan tradisi melalui bentuk kreatif, relevan, komunikatif, serta berakar pada identitas budaya.(Andi- Mahasiswa Magang ISI Ska)
Referensi:
- Sunardi, S., Saka, P. A., Sulastuti, K. I., Mulyana, A. R., Ansari, I., Novianto, W., Kiswanto, K., & Putro, R. L. U. (2025). Aesthetic Transformation of Javanese Wayang Performances in the Digital Era. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 25(1), 211–226. https://doi.org/10.15294/harmonia.v25i1.11320
- Arif, N. N. M. (2023). Perancangan wayang Isekai sebagai alternatif pentas wayang untuk generasi muda. Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 21(1), 22–29. https://doi.org/10.21831/imaji.v21i1.48114
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....