Bahasa Jawa dan Unggah-Ungguhnya Haruskah jadi Cerminan Identitas Budaya?

  • 30 Sep 2026 14:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Bahasa Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki unggah-ungguh yang mengajarkan masyarakat untuk menempatkan diri dan menghormati lawan bicara. Nilai tersebut dinilai masih relevan diterapkan dalam kehidupan modern sebagai bagian dari tata krama sekaligus upaya menjaga identitas budaya Jawa.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Favorita Kurwidaria, S.S., M.Hum., mengatakan unggah-ungguh berkaitan dengan cara seseorang menempatkan dirinya dan orang lain dalam proses komunikasi. Menurutnya, konsep tersebut diwujudkan melalui pilihan bahasa yang disesuaikan dengan mitra tutur, usia, status sosial, tingkat keakraban, serta situasi komunikasi.

“Unggah-ungguh itu kemudian diasosiasikan dengan makna bagaimana menempatkan diri kita sendiri dan menempatkan orang lain, khususnya dalam proses komunikasi yang direalisasikan atau diwujudkan melalui bahasa,” ujar Favorita dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, 25 September 2026.

Ia menjelaskan, bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang penggunaannya disesuaikan dengan konteks komunikasi. Dalam perkembangannya, ragam bahasa Jawa antara lain disederhanakan menjadi ragam ngoko dan krama, yang kemudian memiliki variasi seperti ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus.

Favorita mencontohkan, penggunaan kosakata krama inggil juga perlu ditempatkan secara tepat karena tidak semua kata yang dianggap lebih halus dapat digunakan untuk membahasakan diri sendiri. Misalnya, kata “wangsul” digunakan untuk membahasakan diri sendiri, sedangkan “kondur” merupakan bentuk krama inggil yang digunakan untuk membahasakan orang lain.

Menurutnya, penggunaan bahasa Jawa dengan tepat tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memilih kosakata, tetapi juga menunjukkan sikap menghargai dan menempatkan orang lain secara tepat. Karena itu, unggah-ungguh memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, termasuk nilai tepa selira dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.

“Pilihan bahasa untuk menggunakan bahasa yang lebih halus untuk orang yang lebih tua itu kemudian diidentikkan dengan orang yang bisa tata krama, orang yang bisa atau pandai menempatkan diri,” kata Favorita.

Ia menilai, perubahan penggunaan bahasa di kalangan generasi muda merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari seiring perkembangan teknologi, media sosial, dan semakin terbukanya komunikasi antarwilayah maupun antarnegara. Meski demikian, menurutnya tetap diperlukan kesadaran untuk menjaga penggunaan bahasa Jawa dan menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa sebagai bagian dari kekayaan budaya.

Favorita juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana mengenalkan bahasa Jawa kepada generasi muda. Menurutnya, pendekatan melalui media yang dekat dengan keseharian anak muda dapat menjadi salah satu cara agar bahasa Jawa tidak hanya dipelajari melalui buku atau pendidikan formal, tetapi juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa Jawa itu merupakan salah satu bahasa atau kekayaan budaya kita. Orang luar sangat menyenangi atau mengagumi bahasa kita. Kalau bahasa ini tidak kita gunakan atau kita lestarikan, lalu siapa lagi yang akan melestarikan?” ucap Favorita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....