Tari Orek-Orek Kabupaten Ngawi

  • 18 Sep 2026 13:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tari Orek-Orek diciptakan Sri Widajati pada 1981 berdasarkan keinginan Pemerintah Kabupaten Ngawi menghidupkan kembali kesenian rakyat setempat. Proses penciptaannya diawali wawancara dengan seniman Orek-Orek Sakijo, Lamin, dan Sakimun untuk menggali sejarah kesenian tersebut.

Kesenian Orek-Orek berawal pada 1931 di Ambarawa, saat pembangunan bendungan dan jembatan dilakukan Pemerintah Hindia Belanda kala itu. Para pekerja kemudian berkumpul, memainkan lesung sebagai musik, menari spontan, serta menampilkan lakon satir tentang penjajahan Belanda.

Setelah melakukan riset, Sri Widajati mengembangkan kesenian tersebut menjadi Tari Orek-Orek khas Kabupaten Ngawi melalui berbagai unsur pertunjukan. Unsur tersebut meliputi Gending Orek-Orek, lirik lagu, serta koreografi yang menggambarkan aktivitas masyarakat ketika membangun bangunan.

Sebagai kesenian rakyat, Tari Orek-Orek menonjolkan unsur hiburan melalui musik pengiring dan pola gerak tari yang dinamis. Musik pengiring menggunakan laras slendro sehingga menghasilkan suasana sigrak dan bersemangat, didukung permainan pengrawit terutama bagian kendang.

Terdapat tiga pendapat mengenai asal-usul nama Orek-Orek yang berkembang berdasarkan bentuk, musik, maupun rias pemainnya. Nama tersebut dikaitkan dengan bentuk bercorak ragam, Gending Orek-Orek, serta wajah pemain yang diorek menggunakan arang.

Pada masa lalu, seluruh pemain kesenian Orek-Orek merupakan laki-laki karena pertunjukannya berkembang sebagai kesenian jalanan atau mbarang. Tokoh perempuan dalam pertunjukan juga diperankan laki-laki dengan mengenakan busana perempuan sesuai kebutuhan pementasan kesenian tersebut.

Tari Orek-Orek terus berkembang sebagai salah satu kesenian yang merepresentasikan identitas budaya masyarakat Kabupaten Ngawi hingga sekarang. Pada 2014, Tari Orek-Orek mencatat rekor MURI setelah ditampilkan oleh 15.000 guru dan pelajar Kabupaten Ngawi.

Pengembangan Tari Orek-Orek menunjukkan upaya pelestarian budaya melalui riset, inovasi, pembelajaran, serta keterlibatan generasi muda secara berkelanjutan. Kesenian tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah, kreativitas, dan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat melalui seni pertunjukan.(Reno Mahasiswa Magang ISI Ska)

Referensi:

  1. Haryati, Tien Handayani. 1995. Kehidupan Tari Orek-orek di Desa Ketanggi, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Skripsi Tugas Akhir, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta.
  2. Dewi Harmulasari, Shinta. 2013. Garap Tari Orek-orek Karya Sri Widajati di Kabupaten Ngawi. Skripsi Tugas Akhir, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....