Gatot Kaca Jadi Teladan Mental Generasi Muda

  • 18 Sep 2026 13:10 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tokoh pewayangan Gatot Kaca dinilai memiliki nilai keteladanan yang relevan dengan kehidupan generasi masa kini. Sosok yang dikenal dengan ungkapan “otot kawat, balung wesi” itu dapat dimaknai sebagai gambaran keteguhan mental dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam dialog Jagongan, Rabu, 16 September 2026, Sekretaris Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Halintar, mengatakan Gatot Kaca dipilih karena merupakan tokoh yang dekat dengan masyarakat. Selain dikenal dalam pertunjukan wayang, karakter Gatot Kaca juga hadir dalam berbagai bentuk budaya populer yang dikenal generasi muda.

Menurut Halintar, Gatot Kaca merupakan putra Bima dan Arimbi yang dalam pewayangan Jawa digambarkan melalui proses panjang hingga menjadi kesatria. Salah satu proses penting tersebut adalah ketika Gatot Kaca digembleng di Kawah Candradimuka dan kemudian menjadi sosok yang memiliki kekuatan serta keberanian.

Halintar memaknai Kawah Candradimuka dalam konteks masa kini sebagai berbagai proses kehidupan yang membentuk karakter seseorang. Sekolah, pergaulan, keluarga, pengetahuan dari internet, hingga algoritma media sosial dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus tantangan bagi generasi muda.

“Ketika ingin menjadi sosok Gatot Kaca yang istimewa, keluar menjadi sosok pahlawan, berarti Kawah Candradimuka ini harus kita betul-betul dalami,” ujar Halintar.

Ia menambahkan, generasi muda juga perlu memiliki keteguhan ketika menghadapi komentar negatif, cibiran maupun berbagai hambatan. Dalam kisah Gatot Kaca Dadi Ratu, misalnya, Gatot Kaca digambarkan pernah menghadapi fitnah, tetapi tetap berpegang pada kejujuran, kebaikan dan keyakinan terhadap kebenaran.

Halintar juga membagikan pengalaman pribadinya dalam menempuh pendidikan pedalangan hingga menjadi dosen. Ia mengaku pernah mendapat cibiran karena memilih bidang seni, terlebih dirinya berasal dari keluarga yang tidak berlatar belakang seni. Namun, tekad untuk menjadi dosen membuatnya terus belajar dan menjalani proses hingga akhirnya mencapai cita-cita tersebut.

Menurutnya, perjalanan seseorang juga dapat mengalami distraksi. Ia sendiri pernah menempuh pendidikan ekonomi selain seni dan melihat teman-temannya telah bekerja di bidang perbankan. Pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran bahwa seseorang perlu kembali pada tujuan awal dan menyelesaikan proses yang telah dimulai.

“Distraksi itu enggak apa-apa. Kalau distraksi itu gunakan untuk pembelajaran. Tetapi selesaikan tujuanmu, kuliah. Selesaikan kuliahmu,” katanya.

Ia menilai keteladanan Gatot Kaca tidak berhenti pada keberhasilan pribadi. Dalam berbagai lakon, Gatot Kaca tetap digambarkan membantu orang lain dan rela berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Nilai tersebut dinilai penting bagi generasi muda agar keberhasilan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian diri sendiri, tetapi juga kebermanfaatan bagi sesama.

Dengan demikian, ungkapan “otot kawat, balung wesi” dapat dimaknai lebih luas sebagai kekuatan mental untuk bertahan, belajar dari proses, menghadapi tantangan, dan tetap berpegang pada tujuan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menjalani kehidupan di tengah berbagai kemudahan dan tantangan zaman. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....