Taufik Ismail Diusulkan Raih Nobel Sastra oleh Profesor dan Doktor di Indonesia

  • 16 Sep 2026 10:06 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Sastrawan Indonesia Taufik Ismail kembali didorong untuk mendapatkan penghargaan Nobel Sastra. Pengusulan tersebut menjadi bagian dari upaya akademisi dan pegiat sastra memperkenalkan karya serta pemikiran sastrawan Indonesia di tingkat internasional.

Dosen Program Studi Sastra Indonesia UNS, Dr. Asep Yuda Wirajaya, M.A., mengatakan Taufik Ismail merupakan sastrawan yang memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial. Karyanya banyak merekam kritik sosial, nilai kemanusiaan, kebangsaan, hingga refleksi spiritual.

Guru Besar UNS, Prof. Bani Sudardi, M.Hum., menilai perjalanan panjang Taufik Ismail membuatnya memiliki pengalaman lintas zaman. Lahir pada 25 Juni 1935, Taufik Ismail mengalami berbagai periode sejarah Indonesia dan turut menyuarakan persoalan sosial melalui karya sastra.

Menurut Prof. Bani, salah satu kekuatan Taufik Ismail adalah kemampuannya membawa puisi melampaui bentuk sastra. Puisi-puisinya pernah dialihwahanakan menjadi lagu dan dinikmati lintas generasi melalui kolaborasi dengan sejumlah musisi.

Asep menjelaskan, kemampuan tersebut menunjukkan visi Taufik Ismail yang jauh ke depan. Menurutnya, ketika puisi beralih menjadi lagu, makna karya tetap dapat dipertahankan sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu, Bani menyebut Nobel Sastra dapat menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap seorang sastrawan. Penghargaan tersebut juga dapat menjadi kebanggaan bagi bangsa sekaligus mendorong perhatian lebih besar terhadap perkembangan sastra dan literasi di Indonesia.

Pengusulan Taufik Ismail melibatkan akademisi dari berbagai daerah. Bani menyebut terdapat sekitar 50 profesor dan 30 doktor yang turut memberikan dukungan melalui tulisan dan kajian terhadap karya Taufik Ismail.

Bani menegaskan Nobel bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang sastrawan. Namun, penghargaan tersebut dinilai tetap penting sebagai bentuk pengakuan internasional dan momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap karya sastra Indonesia.

Karya Taufik Ismail juga dinilai masih relevan dengan persoalan Indonesia saat ini. Puisi-puisinya kerap menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial, ketidakadilan, serta pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, karya Taufik Ismail telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bani menyebut karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam 58 bahasa asing dan 22 bahasa daerah.

Asep berharap generasi muda tidak hanya mengenal Taufik Ismail, tetapi juga membaca dan memahami karya-karya sastra Indonesia lainnya. Menurutnya, pengenalan terhadap sastra penting untuk membangun kesadaran budaya sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia di bidang sastra.

Ia berharap perjuangan pengusulan Taufik Ismail untuk Nobel Sastra dapat membuahkan hasil. Upaya tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi Indonesia untuk terus melahirkan karya sastra yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....