Legong Kreasi Mahottama, Cahaya Baru Seni Bali Pudak Petak

  • 16 Sep 2026 10:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kelompok Seni Bali Pudak Petak di Kota Surakarta terus berupaya melestarikan sekaligus mengembangkan seni tradisi Bali melalui karya-karya inovatif. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui lahirnya karya tari baru “Legong Kreasi Mahottama” yang memadukan nilai tradisi dengan kreativitas artistik.

Karya tersebut lahir melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026, dengan judul “Peningkatan Daya Saing Kelompok Seni Pudak Petak melalui Pengembangan Inovasi Karya dan Produksi Konten Kreatif”. Program ini diketuai oleh Ketua Tim Marfi Netri Elyadi, M.Sn., bersama anggota tim Paimin, M.A., Gede Basuyoga Prabhawita, M.Sn., dan R Danang Cahyo Wijayanto, M.Sn.

“Legong Kreasi Mahottama” kemudian dipentaskan dalam Pergelaran Wayang Orang Triwulan Catha Ambya #11 bertema “Harmoni Tradisi dan Akademisi”. Pergelaran yang berlangsung di Auditorium Sarsito Mangoenkusumo, RRI Surakarta, Selasa, 8 September 2026, menjadi ruang pertemuan antara seniman, akademisi, dan masyarakat dalam satu panggung pertunjukan.

Karya yang dipersembahkan oleh Pudak Petak Kreatif tersebut dikoreografikan oleh Gita Prabhawita, dengan musik karya Pasek Wijaya dan rancangan kostum oleh I Nyoman Agus Hari S.G. Gita menjelaskan, karya ini terinspirasi dari suasana fajar ketika langit perlahan berubah dari gelap menuju semburat merah dan jingga.

“Matahari menjadi simbol kehidupan, cahaya, energi, dan harapan baru. Melalui karya ini, kami ingin menggambarkan perjalanan manusia dalam menyambut kehidupan dengan rasa syukur,” ujar Gita. Nama Mahottama yang berarti “Maha Utama” merepresentasikan matahari sebagai sumber kehidupan bagi seluruh makhluk.

Pengembangan karya dilakukan dengan tetap mempertahankan karakteristik gerak Legong dan estetika tari Bali. Proses penciptaannya menggunakan pendekatan partisipatif dan kontekstual dengan melibatkan anggota kelompok seni dalam pengembangan gagasan, eksplorasi gerak, hingga pembentukan identitas karya.

Selain penciptaan tari, program ini juga memperkuat aspek visual melalui perancangan kostum tari serta produksi konten video kreatif sebagai media promosi. Upaya tersebut menjadi strategi untuk memperkuat identitas kelompok sekaligus memperluas jangkauan apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi.

Program ini juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 3 melalui keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas di luar kampus. Mahasiswa yang terlibat yakni Muhammad Nur Ilham, Ni Nyoman Candrian Mahariani, dan Arrosa Eka Anggraini, yang berperan dalam pendampingan pelatihan tari, penciptaan karya, dokumentasi, hingga evaluasi kegiatan bersama kelompok seni.

Dari sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan tersebut mendukung SDGs poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui seni sebagai media edukasi dan literasi budaya, serta SDGs poin 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan karya berkelanjutan, pemanfaatan kostum jangka panjang, dan media digital sebagai penguatan ekonomi kreatif.

Panggung Triwulan Catha Ambya #11, “Legong Kreasi Mahottama” diharapkan bukan pertunjukan semata namun menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah perkembangan zaman. Kehadiran karya tersebut menunjukkan bahwa seni Bali dapat terus tumbuh dan menemukan ruang apresiasi baru di Kota Surakarta melalui kolaborasi antara komunitas seni, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....