Budaya dan Etika Jadi Fondasi Kesantunan Berbahasa Generasi Selanjutnya

  • 29 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Laila Fitri Nur Hidayah, M.Pd., menilai budaya, bahasa, dan etika merupakan tiga hal yang saling berkaitan dalam membentuk karakter masyarakat. Hal tersebut disampaikan Laila dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Sabtu 28 Agustus 2026, yang mengangkat tema “Lestari Budayanya, Santun Bahasanya, Baik Etikanya.”

Laila menjelaskan, budaya menjadi dasar karena di dalamnya terdapat nilai, pengetahuan, kebiasaan, norma, serta hasil karya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. “Pertama kita harus melestarikan budayanya. Kita harus tahu identitas budaya kita dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita,” ujar Laila.

Menurutnya, bahasa menjadi sarana untuk menyampaikan nilai dan identitas budaya tersebut. Sementara etika diperlukan agar penyampaian dilakukan dengan cara yang tepat dan menghormati orang lain.

“Bagaimana cara menyampaikan tentang identitas budaya, tentang nilai-nilai dalam budaya itu dengan bahasa yang baik dan dengan etika yang benar,” katanya.

Laila menekankan pentingnya unggah-ungguh dalam kehidupan masyarakat saat ini. Menurutnya, lunturnya kesantunan tidak semata-mata menjadi kesalahan generasi muda, karena generasi sebelumnya memiliki peran penting dalam memberikan contoh.

Ia menilai generasi milenial dan generasi sebelumnya perlu menjadi teladan bagi Gen Z maupun generasi Alpha. Ketika interaksi antara orang tua, anak, dan lingkungan semakin berkurang, nilai-nilai budaya seperti unggah-ungguh berpotensi ikut menghilang.

“Pentingnya unggah-ungguh itu bukan hanya sekadar untuk para generasi Gen Z dan Alpha untuk belajar, tetapi generasi sebelumnya itu untuk memberikan contoh,” ucapnya.

Laila juga mengingatkan bahwa tidak seluruh kebiasaan masa lalu harus diwariskan tanpa pertimbangan. Nilai budaya yang positif seperti meminta maaf, meminta izin, mengucapkan terima kasih, menghargai orang lain, dan memberikan apresiasi dinilai tetap relevan untuk dipertahankan. Menurutnya, kesantunan berbahasa juga tidak selalu berarti menggunakan bahasa formal atau bahasa yang sangat halus. Kesantunan harus disesuaikan dengan lawan bicara dan konteks komunikasi.

Ia menambahkan, perkembangan bahasa di era digital tidak harus dianggap sebagai ancaman selama nilai dan identitas budaya tetap dipertahankan. Masyarakat dapat menggunakan bahasa gaul, bahasa nonformal, maupun berbagai platform digital, tetapi tetap perlu mempertimbangkan kepantasan, sumber informasi, dan konteks.

Laila juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak harus membuat budaya tradisional kehilangan identitas, karena yang dapat berubah adalah media penyampaiannya, bukan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Yang diganti adalah media penyampaiannya, bukan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Nilai-nilainya tetap sama, tetapi penyampaiannya yang biasanya langsung bisa menggunakan platform digital,” katanya.

Di akhir dialog, Laila mengajak masyarakat membiasakan diri “saring sebelum sharing” dalam setiap komunikasi, baik secara langsung maupun melalui media digital. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....