Sembilan Dalang Cilik Diberi Panggung Regenerasi Budaya
- 27 Agt 2026 18:43 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Minimnya panggung bagi anak-anak untuk menampilkan kemampuan pedalangan mendorong Paguyuban UMKM Solo (PUS) menghadirkan Parade Sembilan Dalang Cilik dalam event Pinarak Budaya Market di Hotel Dana Solo.
Parade tersebut digelar selama dua hari, Kamis 27 Agustus 2026 hingga Jumat 28 Agustus 2026, mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya.
Ketua Paguyuban UMKM Solo (PUS), Iman Buhairi Santoso mengatakan, gagasan parade bermula dari adanya anak anggota paguyuban yang memiliki bakat sebagai dalang. Kondisi tersebut kemudian mendorong PUS memberikan panggung bagi anak-anak lain yang memiliki ketertarikan terhadap seni pedalangan.
“Di sini ada dalang ada sekelompok bocil, bocah cilik ini yang menyukai atau yang concern mendalami dalang,” ujarnya.
Sembilan dalang cilik yang tampil berasal dari Solo Raya. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, mulai kelas dua hingga kelas enam. Masing-masing dalang mendapat kesempatan pentas sekitar 30 menit.
Iman mengatakan, parade tersebut sekaligus diharapkan menjadi bagian dari upaya regenerasi dalang. Menurutnya, kemampuan pedalangan perlu dikenalkan dan dikembangkan sejak usia dini.
“Pastinya, pastinya kami mengharap seperti itu. Karena dalang itu enggak bisa dibentuk dalang posisi udah besar,” ucapnya.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, PUS menggandeng tiga sanggar pedalangan. Selain parade, agenda Pinarak Budaya Market juga diisi workshop tari, penyuluhan UMKM, kuliner, pameran craft serta berbagai kegiatan budaya lainnya.
Iman menilai tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda tertarik mengenal budaya sendiri. Menurutnya, budaya lokal membutuhkan dukungan lebih besar, termasuk dari lingkungan sekolah.
“Memang berat ya namanya budaya itu berat. Tapi kalau budaya asing cepat,” katanya.
Ia berharap sekolah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyaksikan pertunjukan budaya secara langsung. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk menanamkan kecintaan terhadap kesenian tradisional.
Sementara itu, Panitia sekaligus Inisiator Parade Dalang Cilik, Dwi Esti Nastiti mengatakan, gagasan kegiatan tersebut berawal dari pengalamannya melihat cucunya yang menekuni pedalangan sejak usia dini.
Ia menyebut Solo Raya sebenarnya memiliki banyak sanggar pedalangan. Namun, kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh panggung dan menunjukkan kreativitas masih terbatas.
“Ketika saya melihat selama ini itu kurang adanya panggung untuk anak-anak,” ujarnya.
Dwi mengatakan, bakat anak akan sulit berkembang apabila tidak mendapatkan ruang dan dukungan. Karena itu, parade tersebut diharapkan menjadi salah satu wadah bagi para dalang cilik untuk terus berlatih sekaligus tampil di hadapan masyarakat.
Awalnya, Dwi hanya berencana menampilkan satu dalang cilik. Namun, konsep acara yang juga memadukan kuliner, pameran kerajinan dan kegiatan UMKM membuat panitia memutuskan menghadirkan lebih banyak dalang.
“Kalau cuma satu dalang kan sepi akhirnya kita ambil langkah untuk menampilkan sembilan dalang,” ucapnya.
Delapan dalang cilik dijadwalkan tampil dengan durasi sekitar 30 menit. Sementara itu, cucu Dwi menjadi salah satu penampil pada malam hari. Pertunjukan juga dimeriahkan Bagong dan Petruk dari Sriwedari untuk mengisi adegan Goro-Goro.
Dwi berharap kehadiran para dalang cilik dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk kembali mengenal dan mencintai kesenian tradisional.
“Kita berharap itu anak-anak gen Z dan gen apa itu bisa nguri-uri budaya,” katanya.
PUS menargetkan parade tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan perdana. Iman menyebut agenda serupa akan dikembangkan menjadi kegiatan rutin dan terbuka kemungkinan diperluas menjadi festival dalang dengan peserta dari Solo Raya hingga Jawa Tengah.
“Ini baru permulaan,” ujarnya. (Ase)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....