Gunungan Sekaten Keraton Surakarta Jadi Rebutan, Warga Berburu Berkah Keraton

  • 26 Agt 2026 13:59 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakrta - Empat gunungan menjadi pusat perhatian masyarakat dalam puncak Hajad Dalem Grebeg Maulud atau Sekaten Keraton Surakarta, Rabu 26 Agustus 2026. Dua pasang gunungan tersebut dikirab dari lingkungan keraton menuju Masjid Agung Surakarta untuk menjalani rangkaian prosesi sebelum menjadi rebutan masyarakat.

Tradisi kirab gunungan menjadi salah satu puncak perayaan Sekaten yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam tradisi tersebut, gunungan berisi hasil bumi dan berbagai panganan yang menjadi simbol sedekah keraton kepada masyarakat.

Ketua Lembaga Dewan Adat dan Pengageng Sasana Wilapa Pakubuwono XIV Hangabehi, GKR Koes Murtiyah Wandansari mengatakan, prosesi kirab gunungan kali ini tetap mengikuti pola yang selama ini dijalankan Keraton Surakarta.

“Proses ini ya seperti biasa gitu seperti paling enggak seperti yang waktu Idul Adha. Ini nanti bawa berapa grebegnya gunungannya? Dua pasang,” ujarnya.

Menurutnya, rangkaian kirab tidak hanya menampilkan gunungan. Sebelum gunungan keluar, terdapat perangkat gamelan Kiai Guntursari yang ditempatkan di bagian depan rombongan, kemudian diikuti prajurit dan gunungan.

“Ya paling depan kan malah satu perangkat Kiyai Guntursari itu ikut keluar lagi di depan sendiri itu, setelah prajurit, baru gunungan,” ucapnya.

Di bagian belakang rombongan, prosesi dilengkapi dengan penyutro. Tahun ini, penyutro diisi 13 penari laki-laki dari abdi dalem Langentoyo. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari karakter kirab karena penyutro bukan prajurit, melainkan abdi dalem wireng atau penari laki-laki.

“Nah ini nanti sepanjang jalan dia akan menari memang penyutro itu tidak kategori prajurit, tapi memang mereka adalah para abdi dalem wireng,” katanya.

Tradisi kirab dua pasang gunungan dalam Grebeg Sekaten bukan hal baru. Pada pelaksanaan sebelumnya, dua pasang gunungan juga diarak dari kompleks Keraton Surakarta menuju Masjid Agung dan kemudian diperebutkan masyarakat. Gunungan tersebut dipercaya memiliki makna sebagai bentuk sedekah dan ungkapan syukur.

Bagi masyarakat yang datang, perebutan gunungan bukan sekadar mendapatkan makanan atau hasil bumi. Sebagian warga meyakini bagian dari gunungan yang berhasil diperoleh dapat membawa keberkahan.

Suratni, warga Boyolali yang ikut memperebutkan gunungan, mengatakan dirinya sengaja mengikuti tradisi tersebut karena meyakini hasil rebutan gunungan memiliki nilai keberkahan.

“Saya ikut berebut gunungan karena percaya hasil yang didapat membawa berkah. Ini juga menjadi tradisi yang ingin saya ikuti,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terhadap gunungan Sekaten terus menjadi bagian dari daya tarik tradisi tersebut. Bahkan, sejumlah referensi mengenai Grebeg Mulud Keraton Surakarta mencatat masyarakat telah menunggu sejak sebelum prosesi dimulai untuk mendapatkan bagian dari gunungan.

Selain menjadi puncak rangkaian Sekaten, kirab gunungan mempertemukan unsur ritual, seni tari, gamelan, prajurit keraton, dan partisipasi masyarakat dalam satu prosesi budaya. Rangkaian tersebut sekaligus mempertahankan tradisi Keraton Surakarta yang telah berlangsung lintas generasi. (Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....