Dari Panjat Pinang hingga Tirakatan, Tradisi Agustusan Penuh Nilai Kehidupan

  • 19 Agt 2026 23:38 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus tidak sekadar menjadi momentum perayaan, tetapi juga menjadi waktu untuk kembali mengingat sejarah perjuangan para pahlawan. Beragam tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat menjadi cara untuk mengekspresikan rasa syukur sekaligus menghargai pengorbanan para pendahulu bangsa.

Dosen dan pemerhati budaya, Dr. Khabibi Muhammad Luthfi, S.S, M.Hum menjelaskan bahwa momentum Agustusan dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arti kemerdekaan. Menurutnya, kemerdekaan yang dinikmati saat ini lahir melalui perjuangan panjang yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa.

Khabibi mencontohkan kisah Mbah Abdul Malik Banyumas yang pernah melakukan perjalanan bersama para muridnya, termasuk Habib Luthfi Pekalongan. Pada 17 Agustus, sekitar pukul 10.00, rombongan sengaja berhenti di tengah perjalanan untuk menggelar tikar dan membaca Fatihah sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang. Menurut Khabibi, tindakan sederhana tersebut menunjukkan bahwa mengenang jasa pahlawan dapat dilakukan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

Seiring perjalanan waktu, ekspresi masyarakat dalam memperingati kemerdekaan berkembang menjadi berbagai tradisi. Mulai dari memasang bendera, kerja bakti, perlombaan, tirakatan, upacara, hingga pawai dan berbagai kegiatan kreatif yang kini juga memanfaatkan teknologi digital. Tradisi tersebut berkembang dari lingkungan masyarakat hingga tingkat RT dan RW.

Memasang bendera Merah Putih, misalnya, tidak hanya menjadi kegiatan menghias lingkungan. Khabibi menyebutnya sebagai simbol rasa memiliki terhadap Indonesia sekaligus pengingat terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sementara kerja bakti menjadi contoh nyata nilai gotong royong, ketika warga saling membantu sesuai kemampuan masing-masing tanpa mengutamakan pamrih.

Tradisi tirakatan juga memiliki makna penting dalam peringatan kemerdekaan. Kegiatan tersebut dapat diisi dengan doa, tahlilan, pembacaan sejarah, maupun cerita dari para sesepuh tentang pengalaman masa lalu. Selain menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, tirakatan menjadi ruang untuk menjaga memori kolektif dan meneruskan cerita perjuangan kepada generasi berikutnya.

Berbagai perlombaan Agustusan pun menyimpan nilai kehidupan. Lomba tarik tambang mengajarkan persatuan dan kekompakan, sedangkan panjat pinang menggambarkan perjuangan mencapai tujuan yang membutuhkan kerja sama dan dukungan orang lain. Selain itu, pembagian hadiah dalam panjat pinang juga dapat mengajarkan sikap tidak serakah dan pentingnya berbagi.

Upacara kemerdekaan turut menjadi sarana menanamkan nilai nasionalisme, patriotisme dan kedisiplinan. Khabibi menilai, upacara tidak semestinya dipandang hanya sebagai rutinitas atau kewajiban administratif. Jika masyarakat mau berhenti sejenak dan memahami makna di balik pembacaan Proklamasi, penghormatan bendera, serta lagu kebangsaan, akan muncul kesadaran mengenai besarnya perjuangan para pendahulu.

Khabibi mengajak masyarakat memaknai Agustusan tidak berhenti dengan kemeriahan, tetapi juga sebagai pengingat untuk mengisi kemerdekaan sesuai bidang masing-masing. “Kalau misalkan guru, mendidik dengan baik. Kalau pelajar, belajar dengan baik. Kalau pedagang, berdagang dengan jujur,” ujarnya. Dengan demikian, semangat kemerdekaan dapat diteruskan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....