Kearifan Lokal Jawa Tengah Dinilai Perlu Dihidupkan dalam Pembelajaran
- 16 Agt 2026 08:04 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SURAKARTA – Kearifan lokal dan ragam budaya Jawa Tengah dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda, salah satunya melalui dunia pendidikan. Integrasi budaya dalam pembelajaran dinilai dapat mendekatkan siswa dengan lingkungan sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Hal tersebut mengemuka dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta bertajuk “Pesona Kearifan Lokal dan Ragam Budaya Jawa Tengah”, Kamis, 6 Agustus 2026. Program tersebut menghadirkan empat narasumber dari komunitas pemerhati pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni Wahyu Agustina, S.Pd., Fotina Alya Nur Maghfira, S.Pd., Audrey Zhafira Salma, S.Pd., dan Jovita Ratu Parosa, S.Pd.
Wakasek SMP Negeri 5 Surakarta, Wahyu Agustina mengatakan, kearifan lokal memiliki cakupan yang luas, tidak hanya berupa produk budaya atau kuliner, tetapi juga mencakup pandangan hidup, tradisi, karya, hingga nilai yang berkembang di masyarakat. “Ketika materi diambil dari sesuatu yang dekat dari kehidupan mereka, tentu saja itu akan membantu proses belajar dan juga mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Wahyu, kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Integrasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai budaya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan siswa terhadap lingkungan dan identitas budayanya.
Sementara itu, Fotina Alya Nur Maghfira menyoroti tantangan generasi muda, khususnya Generasi Z, dalam mempertahankan perhatian terhadap budaya lokal di tengah pengaruh globalisasi dan media sosial. “Kita harus meng-FYP-kan konten-konten budaya Indonesia juga, entah itu di platform TikTok atau Instagram,” katanya.
Menurut Fotina, budaya lokal tidak harus diperkenalkan melalui kemasan yang kaku karena kegiatan budaya yang dipadukan dengan aktivitas menarik bagi anak muda dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkannya. Ia mencontohkan Festival Jazz Gunung Slamet di Purbalingga yang memadukan pertunjukan musik dengan pengenalan budaya lokal, seperti kuliner mendoan, batik, dan tradisi Mertelung.
Penggunaan media digital juga menjadi perhatian Audrey Zhafira Salma yang merupakan mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Ia mencontohkan penelitian mengenai tradisi Merti Tirto di Klaten yang berkaitan dengan ungkapan rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber air.
Audrey menjelaskan, tradisi Merti Tirto memiliki sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari pengumpulan air dari berbagai umbul, doa bersama, arak-arakan hasil bumi hingga pelepasan ikan. Menurutnya, tradisi tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran menarik karena memiliki cerita, nilai budaya, sekaligus unsur visual yang dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk media.
Sementara itu, Jovita Ratu Parosa mencontohkan potensi cerita rakyat dan sejarah lokal di Boyolali yang dapat dikembangkan menjadi materi ajar. Ia menyebut cerita mengenai petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro di kawasan lereng Merapi-Merbabu dapat dialihwahanakan menjadi komik digital, flipbook, maupun media visual lainnya.
“Kita sebagai calon pendidik pun harus memanfaatkan itu untuk menjadikan materi-materi ajar menjadi sebuah media pembelajaran yang bisa diakses secara visual, menarik secara visual, dan diakses lebih mudah,” ujar Jovita. Menurutnya, pendekatan tersebut sesuai dengan karakter generasi muda yang akrab dengan telepon pintar dan berbagai konten visual.
Dalam diskusi tersebut juga muncul pertanyaan mengenai relevansi sejumlah tradisi lokal yang dalam perkembangannya dinilai dapat membebani masyarakat, salah satunya tradisi nyadran. Audrey mengatakan, tradisi nyadran pada dasarnya memiliki nilai sosial dan spiritual, seperti ziarah, silaturahmi, berbagi makanan, serta ungkapan rasa syukur.
Namun, menurut Audrey, perkembangan tradisi di sejumlah tempat dapat memunculkan tuntutan tertentu yang membuat pelaksanaannya menjadi lebih besar dan mahal. “Sebenarnya nyadrannya tidak salah, tetapi karena diada-adakan harus dalam konteks mewah, padahal sederhana pun bisa,” ujarnya.
Para narasumber juga menekankan pentingnya sikap saling menghargai di tengah keberagaman tradisi agar perbedaan budaya tidak menjadi alasan untuk saling menghakimi. Wahyu mengatakan, menjaga eksistensi budaya tidak cukup hanya dengan melestarikannya, tetapi budaya harus benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, “Bukan hanya dilestarikan, tapi benar-benar dihidupi,” katanya.
Wahyu mencontohkan pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan mengajak siswa mengunjungi sentra budaya atau membuat konten mengenai potensi lokal di sekitar mereka. Di lingkungan SMP Negeri 5 Surakarta, siswa dapat mengenali sentra pembuatan sangkar burung di sekitar sekolah dan mengemasnya menjadi materi pembelajaran maupun konten digital.
Menurut Wahyu, pendekatan tersebut dapat menjadi cara menjembatani budaya dengan dunia generasi muda tanpa harus melarang penggunaan media digital. “Bagaimana kita mengadaptasi budaya itu masuk ke dunianya mereka,” ucapnya.
Ke depan, integrasi kearifan lokal dinilai dapat diperkuat melalui kegiatan kokurikuler dengan memetakan potensi budaya di berbagai daerah Jawa Tengah dan menggabungkannya dengan berbagai mata pelajaran. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat membuat teks deskripsi mengenai tradisi lokal, teks berita tentang kegiatan budaya, hingga vlog mengenai kearifan lokal di lingkungan sekitar.
Para narasumber berharap generasi muda tidak memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno atau membosankan karena pengenalannya dapat dilakukan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka juga mengajak generasi muda untuk tidak mudah memberikan penilaian negatif terhadap tradisi yang berbeda dari kebiasaan mereka, karena sikap saling menghargai menjadi bagian penting dalam menjaga keberagaman budaya Indonesia. (Citra)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....