Prabu Puntadewa, Teladan Pemimpin yang Agung karena Budi Pekerti dan Sederhana
- 07 Agt 2026 18:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Sosok Prabu Puntadewa atau Yudhistira dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam kisah Mahabharata yang hingga kini tetap relevan sebagai teladan kepemimpinan. Bukan karena mahkota atau kekuasaan yang dimilikinya, melainkan karena kejujuran, ketulusan budi, serta kesederhanaan sikapnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi pembahasan dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, 6 Agustus 2026 yang menghadirkan Dosen Program Studi Seni Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn.
Dalam dialog tersebut, Prof. Sugeng menjelaskan bahwa Puntadewa merupakan putra sulung Pandawa yang sejak kecil hingga dewasa digambarkan memiliki penampilan yang sangat sederhana. Berbeda dengan raja-raja pada umumnya yang mengenakan mahkota, perhiasan, dan busana kebesaran, Puntadewa hanya tampil dengan gelung sederhana tanpa berbagai atribut kebesaran kerajaan.
"Puntadewa sejak kecil sampai tua memang penampilannya sederhana. Bahkan sebagai seorang raja pun ia tidak memakai mahkota maupun perhiasan kebesaran seperti raja-raja lainnya," ujarnya.
Menurut Prof. Sugeng, karakter dasar Puntadewa adalah kejujuran dan keteguhan memegang kebenaran. Dalam berbagai lakon Mahabharata, ia digambarkan sebagai sosok yang tidak pernah berbohong dan selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun, di balik kelebihannya itu, Puntadewa juga memiliki kelemahan, yakni sulit menolak permintaan orang lain.
Hal tersebut terlihat dalam lakon Pandawa Dadu, ketika ia menerima tantangan permainan dadu dari Kurawa hingga harus mempertaruhkan kerajaan, saudara-saudaranya, bahkan Drupadi. Meski demikian, Prof. Sugeng menegaskan bahwa karakter Puntadewa tidak dapat dipandang secara terpisah dari empat Pandawa lainnya.
Menurutnya, kepemimpinan di Kerajaan Amarta merupakan representasi kepemimpinan kolektif yang saling melengkapi. "Puntadewa tidak bisa berdiri sendiri. Kekurangannya ditutup oleh Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh mengambil keputusan seorang diri, tetapi harus mempertimbangkan pendapat orang-orang di sekitarnya," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keagungan Puntadewa bukan lahir karena berhasil menaklukkan banyak kerajaan, melainkan karena kebijaksanaan dan keluhuran budinya.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai relevansi tokoh wayang bagi generasi muda, Prof. Sugeng menilai bahwa pewayangan merupakan simbol kehidupan yang sarat nilai moral. Karena itu, generasi muda perlu terlebih dahulu dikenalkan dengan cerita dan tokoh-tokoh wayang agar mampu memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Di akhir dialog, Prof. Sugeng mengingatkan bahwa setiap lakon wayang merupakan gambaran cita-cita kehidupan manusia. "Cerita wayang adalah simbol kehidupan. Penonton bebas memilih keteladanan dari tokoh-tokoh wayang, tetapi yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....