Kreatif, Sanggar Seni di Klaten Sukses Tarik Ratusan Anak Belajar Tari Tradisional

  • 30 Jul 2026 15:30 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta — Penggabungan unsur gerak tradisi dengan sentuhan kekinian terbukti ampuh menarik minat generasi muda terhadap seni tari yang belakangan sempat mengalami penurunan. Gelaran tari massal perdana di Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, yang semula hanya ditargetkan diikuti 222 penari dalam rangka Hari Jadi Klaten, justru diikuti oleh lebih dari 500 peserta.

Kegiatan ini didominasi oleh pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah, serta melibatkan berbagai komunitas sanggar seni. Antusiasme yang tinggi bahkan membuat panitia harus memindahkan lokasi pertunjukan ke area yang lebih luas akibat membludaknya jumlah peserta.

Ketua Sanggar Sekar Langit sekaligus Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Klaten, Marta Endang Astuti, mengatakan bahwa tingginya minat anak-anak tidak lepas dari strategi mengenalkan tari tradisional melalui karya yang lebih dekat dengan dunia mereka.

Tarian "Jatilan Gaul" dipilih karena menggabungkan unsur gerak tradisi dengan sentuhan kekinian, sehingga mampu memancing rasa penasaran sekaligus membuat anak-anak menikmati proses belajar menari. Setelah tertarik, mereka kemudian dikenalkan secara bertahap pada tari-tari tradisional dan klasik.

Menurut Marta, pendekatan tersebut terbukti efektif. Anak-anak yang awalnya datang karena tertarik dengan konsep yang lebih modern, justru bertahan di sanggar untuk mempelajari seni tari tradisional secara lebih mendalam. Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya mempertahankan bentuk lama, tetapi juga membutuhkan kreativitas agar tetap relevan bagi generasi sekarang.

“Sanggar kami itu biasanya ketika anak-anak pemula baru masuk gitu kita beri tarian atau materi yang semacam jaran gaul, ada tradisinya sedikit, gerak-gerak kekinian. Nah, ketika suasana hati mereka sudah mulai senang, tidak mungkin lagi akan meninggalkan dunia tari. Lalu kita masuki tarian yang benar-benar dasar-dasar atau tarian tradisi banget atau tarian klasik,” ujar Marta Endang Astuti saat dialog interaktif di RRI, Kamis (30/7/2026).

Senada dengan hal tersebut, Camat Gantiwarno, V. Retno Setyaningsih, merasa senang dengan besarnya antusiasme pelajar sebagai sinyal positif bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi besar dalam melestarikan budaya. Menurutnya, anak-anak hanya membutuhkan ruang berekspresi dan pembinaan yang tepat.

Seni tari juga dinilai mampu menjadi alternatif kegiatan positif untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai, sekaligus melatih kemampuan motorik, membangun karakter, dan mempererat pergaulan antar remaja.

“Sebenarnya anak-anak itu karena di zaman sekarang ini gadget itu yang lebih diminati, atau kalau anak-anak sekarang bilang kaum rebahan. Jadi, kalau seni tari ini digalakkan kembali, insyaallah kami juga ingin membantu mengurangi ketergantungan anak-anak dalam memerangi gadget, yang juga mendukung program kami menuju Kecamatan Layak Anak dan Desa Layak Anak,” ujar Retno Setyaningsih.

Sementara itu, seniman Gantiwarno, Y. Subowo, berharap momentum kebangkitan minat generasi muda ini dapat diikuti dengan penguatan pembinaan sanggar seni dan pembelajaran budaya di sekolah. Ia optimistis, melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, dan dunia pendidikan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten dapat melahirkan tari massal yang menjadi ikon daerah sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah derasnya pengaruh budaya digital. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....