Dosen UCLA Kenalkan Gamelan Indonesia ke Amerika lewat Semangat "Babad Alas"
- 18 Jul 2026 05:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Gamelan Indonesia terus mendapat tempat di kancah internasional berkat dedikasi para seniman yang konsisten mengenalkannya kepada masyarakat dunia. Salah satunya dilakukan Dosen Departemen Etnomusikologi University of California, Los Angeles (UCLA), Joko Sutrisno, S.Sn., yang telah mengembangkan gamelan di luar negeri selama hampir empat dekade.
Dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, tanggal 13 Juli 2026 yang berjudul “Gamelan Babad Alas di USA atau Mancanegara”, Joko menceritakan bahwa perjalanannya bermula dari sebuah desa di Kabupaten Sragen. Kecintaannya terhadap gamelan tumbuh sejak kecil karena ayahnya merupakan guru gamelan, sedangkan ibunya adalah seorang penari tradisional. "Saya lahir karena gamelan, orang tua saya bertemu karena gamelan, dan sampai sekarang kehidupan saya juga dibentuk oleh gamelan," ujarnya.
| Baca juga: Sastra Wayang dalam Tradisi Indonesia |
Setelah menempuh pendidikan seni, Joko mendapat kesempatan mengajar gamelan di Selandia Baru selama delapan tahun sebelum melanjutkan karier di Amerika Serikat. Sejak 1995, ia membangun program gamelan dari nol di Minnesota, kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai pengajar di UCLA hingga saat ini.
Menurut Joko, mengembangkan gamelan di luar negeri bukan sekadar memperkenalkan alat musik tradisional, melainkan sebuah proses "babat alas" atau membuka jalan baru. Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan jumlah perangkat gamelan, kondisi iklim yang dapat merusak instrumen, minimnya tenaga pengajar, hingga perbedaan metode pembelajaran musik Barat dengan tradisi lisan dalam gamelan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia mengembangkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakter mahasiswa internasional. Selain memperkenalkan notasi dan struktur gending secara bertahap, Joko juga mengedepankan praktik mendengar dan mengucapkan pola tabuhan sebelum memainkan instrumen. Menurutnya, pendekatan tersebut terbukti mampu membuat peserta yang belum pernah mengenal gamelan dapat memainkan gending sederhana dalam waktu sekitar satu setengah jam.
Joko juga menekankan pentingnya semangat sukarela (volunteer) dalam mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Ia mengaku kerap mendatangi sekolah-sekolah tanpa memungut biaya untuk memberikan demonstrasi gamelan. Dari pendekatan tersebut, tumbuh ketertarikan masyarakat hingga akhirnya berbagai sekolah dan universitas memiliki perangkat gamelan sendiri. Saat ini, program yang dirintisnya telah berkembang dari satu perangkat gamelan menjadi 12 perangkat yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan pertunjukan.
Menutup dialog, Joko berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang siap menjadi duta budaya di tingkat internasional. Ia menegaskan bahwa gamelan bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media pembentukan karakter, kebersamaan, dan harmoni yang mampu menjembatani perbedaan budaya di berbagai belahan dunia. "Gamelan mematahkan anggapan bahwa musik yang hebat harus selalu berlandaskan tradisi harmoni Barat. Gamelan memiliki kekuatan dan filosofi yang diakui dunia," ujarnya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....