Solo Batik Carnival 2026 Angkat Tema Pitoelas, Perkuat Budaya dan IKM
- 12 Jul 2026 16:20 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Solo Batik Carnival (SBC) ke-17 mengusung tema "Pitoelas: Pitulungan lan Welas" sebagai representasi nilai gotong royong, kasih sayang, dan kepedulian dalam budaya Jawa. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, berharap tema tersebut menjadi semangat untuk menjaga budaya sekaligus membawa Solo Batik Carnival menjadi agenda budaya bertaraf internasional.
Respati mengatakan selama 17 tahun penyelenggaraan, Solo Batik Carnival telah berkembang menjadi lebih dari sekadar parade kostum. Menurutnya, SBC kini menjadi ruang yang mempertemukan kreativitas, budaya, inovasi, dan semangat gotong royong.
"Selama 17 tahun, Solo Batik Carnival telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pertunjukan kostum. SBC kini menjadi panggung yang mempertemukan kreativitas, budaya, inovasi, dan semangat gotong royong. Melalui karnaval ini kita menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber inspirasi yang terus hidup dan berkembang," katanya, Sabtu 11 Juli 2026.
Respati menjelaskan tema "Pitoelas: Pitulungan lan Welas" merepresentasikan nilai luhur budaya Jawa yang menekankan semangat saling menolong, kasih sayang, dan empati dalam kehidupan bermasyarakat. Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen mendukung pengembangan SBC agar semakin dikenal di tingkat internasional.
"Tadi saya berdiskusi dengan penyelenggara, semoga dua tahun ke depan kita bisa mengundang tamu-tamu internasional. Harapannya, SBC semakin mendunia dan membawa dampak positif bagi UMKM serta perekonomian Kota Surakarta," ucapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengatakan tema SBC tahun ini juga dipadukan dengan promosi produk industri kecil dan menengah (IKM) Kota Solo. Konsep tersebut diharapkan menghadirkan pendekatan baru yang mampu memperkuat daya tarik wisata sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.
"Solo Batik Carnival tahun ini memasuki usia ke-17. Pitulasan. Temanya juga bagus, Pitulungan lan Welas. Ini filosofi Jawa," kata Astrid Widayani.
Astrid menjelaskan Pemerintah Kota Surakarta mengarahkan penyelenggara untuk mengangkat potensi sentra-sentra IKM dalam karya yang ditampilkan. Beberapa di antaranya berasal dari sentra shuttlecock di Serengan, sangkar burung di Mojosongo, batik di Laweyan, dan industri kayu di Srikayu, Gilingan.
"Kemarin ada usulan dari penyelenggara tema produk lokal Solo dan saya arahkan ke pengembangan IKM. Saya langsung mengunjungi sentra-sentra IKM yang digunakan untuk tema hari ini," ujarnya.
Menurut Astrid, keterlibatan sentra IKM diharapkan tidak hanya memperkaya kreativitas kostum, tetapi juga menjadi media promosi produk unggulan Kota Surakarta. Dengan demikian, Solo Batik Carnival diharapkan memberikan manfaat langsung bagi pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....