Karate sebagai Salah Satu Media Pendidikan Karakter Anak

  • 29 Mei 2026 20:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap anak-anak yang semakin akrab dengan gadget, olahraga bela diri menjadi salah satu pilihan kegiatan positif yang mulai banyak diminati. Tidak hanya untuk kesehatan fisik, bela diri juga dipercaya mampu membantu membentuk karakter anak sejak dini. Salah satunya melalui karate.

Hal itulah yang disampaikan Joko Sarono, S.Kom., guru SMA Negeri 5 Surakarta sekaligus pelatih dan owner Dojo Karate Gagak Rimang Lemkari Surakarta dalam perbincangan di program dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, 19 Mei 2026. "Masyarakat selama ini sering memandang karate hanya sebatas olahraga pukulan dan tendangan. Padahal, karate tidak hanya berbicara soal kemampuan bertarung, melainkan juga proses pembentukan karakter dan pengendalian diri.'" ucapnya

Ia menjelaskan, dalam karate terdapat lima nilai utama yang terus ditanamkan kepada peserta didik melalui sumpah karate. Nilai tersebut meliputi memelihara kepribadian, patuh pada kejujuran, mempertinggi prestasi, menjaga sopan santun, dan menguasai diri.

"Karate itu bukan sekadar bela diri. Sekarang perkembangannya sudah menjadi sport science atau ilmu olahraga. Jadi selain melatih tubuh, juga membentuk karakter dan mental anak,” ujarnya.

Nilai-nilai itu, menurutnya, tidak hanya dihafalkan, tetapi juga dibiasakan dalam proses latihan sehari-hari. Mulai dari disiplin datang tepat waktu, menghormati pelatih dan teman, hingga mengontrol emosi.

“Anak-anak diajarkan hormat sejak awal. Ketika masuk dojo, mereka salim dengan orang tua, hormat kepada pelatih, dan belajar menghargai orang lain,” katanya.

Karate juga dinilai menjadi wadah untuk menyalurkan energi anak secara positif. Joko menyebut banyak orang tua yang awalnya mengikutkan anak karena anak terlalu aktif atau sulit lepas dari gadget.

“Sekarang tantangan terbesar memang gadget. Anak-anak nyaman di kamar dengan HP. Nah, melalui karate paling tidak anak punya aktivitas fisik, bersosialisasi, dan waktunya untuk bermain gadget berkurang,” jelasnya.

Di Dojo Gagak Rimang sendiri, latihan dikemas dengan metode menyenangkan agar anak tidak merasa tertekan. Dalam satu pekan, latihan dibagi menjadi beberapa fokus, mulai dari teknik dasar, pembinaan fisik, hingga latihan sparring atau kumite yang dipadukan dengan permainan.

Pendekatan itu diterapkan terutama untuk anak usia dini. Menurut Joko, anak usia lima hingga enam tahun sebenarnya sudah bisa mengikuti karate selama mampu berinteraksi dan mengikuti arahan dengan baik.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa karate bukan sarana untuk mengajarkan anak menjadi agresif atau gemar berkelahi. Justru sebaliknya, anak diajarkan mengendalikan diri.

“Tujuan kami bukan membuat anak suka gelut. Justru anak harus mampu menguasai diri. Itu yang paling penting,” tegasnya.

Ia menambahkan, proses pembentukan karakter melalui karate tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan kerja sama antara pelatih dan orang tua dalam mendampingi anak selama bertumbuh.

“Karate itu proses pendidikan jangka panjang. Tidak hanya latihan di dojo, tetapi juga bagaimana orang tua membersamai anak,” katanya.

Selain membentuk karakter, karate juga membuka peluang prestasi bagi anak. Saat ini banyak kompetisi karate yang dapat menjadi jalur pengembangan prestasi nonakademik, termasuk mendukung jenjang pendidikan. (Hil)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....