Kartini dalam Sorotan Pramoedya: Menemukan Suara Perempuan dari Balik Pingitan

  • 18 Apr 2026 14:42 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer menghadirkan sosok Raden Ajeng Kartini secara lebih manusiawi dan kontekstual. Tidak sekadar sebagai simbol emansipasi, Kartini ditampilkan sebagai perempuan muda yang berpikir kritis, gelisah terhadap ketidakadilan, dan berani menyuarakan perubahan di tengah keterbatasan zamannya.

Dalam buku ini, Pramoedya menggali Kartini melalui surat-suratnya, yang menjadi jendela utama memahami isi pikirannya. Dari balik tradisi pingitan, Kartini tetap mampu menjangkau dunia luar melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa.

Surat-surat itu bukan sekadar curahan hati, melainkan refleksi tajam tentang pendidikan, budaya, dan posisi perempuan dalam masyarakat Jawa kala itu. Salah satu gagasan utama yang ditonjolkan adalah kritik Kartini terhadap sistem feodalisme yang membatasi perempuan.

Ia melihat bahwa perempuan tidak diberi ruang untuk berkembang secara intelektual. Dalam salah satu ungkapannya, Kartini menulis, “Kami gadis-gadis Jawa tidak boleh bebas… tidak boleh berdiri sendiri.” Kalimat ini menggambarkan kegelisahan sekaligus keberanian untuk mempertanyakan norma yang sudah mengakar.

Pramoedya juga menekankan bahwa Kartini bukan sekadar korban sistem, melainkan agen perubahan. Ia tidak hanya mengeluh, tetapi juga memikirkan solusi, terutama melalui pendidikan.

Baginya, kemajuan bangsa tidak mungkin tercapai tanpa kemajuan perempuan. Kartini pernah menyatakan, “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

Dalam sudut pandang Pramoedya, Kartini adalah produk zaman kolonial yang kompleks. Ia hidup di antara dua dunia: tradisi Jawa yang kuat dan pengaruh pemikiran Barat yang membuka cakrawala baru. Ketegangan inilah yang justru membentuk karakter Kartini sebagai pemikir yang progresif, namun tetap berakar pada identitasnya.

Buku ini juga mengajak pembaca memahami bahwa perjuangan Kartini tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari dinamika sosial yang lebih luas, termasuk perubahan dalam sistem pendidikan dan munculnya kesadaran baru di kalangan pribumi. Pramoedya menempatkan Kartini sebagai salah satu pelopor kesadaran tersebut.

Gaya penulisan Pramoedya yang lugas dan tajam membuat pembaca seolah diajak berdialog langsung dengan Kartini. Ia tidak mengkultuskan, tetapi justru membumikan sosok Kartini sebagai manusia yang berpikir, merasakan, dan berjuang. Hal ini menjadikan buku ini relevan tidak hanya sebagai biografi, tetapi juga sebagai refleksi sosial.

Pada akhirnya, Panggil Aku Kartini Saja mengingatkan kita bahwa perjuangan emansipasi belum selesai. Semangat Kartini tetap hidup dalam upaya memperjuangkan kesetaraan dan akses pendidikan hingga hari ini. Seperti yang digaungkan Kartini, “Habis gelap terbitlah terang,” sebuah harapan bahwa perubahan selalu mungkin diperjuangkan. (Wiwik)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....