Waspadai Semprot Parfum di Area Leher

  • 31 Mar 2026 14:58 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kebiasaan menyemprotkan parfum di area leher memang umum dilakukan agar aroma lebih tahan lama. Namun, praktik ini belakangan menuai perhatian karena dinilai berpotensi berdampak pada kesehatan, khususnya kelenjar tiroid dan kondisi kulit.

Melansir dari IPB University, pakar Multiomics Cancer, dr Agil Wahyu Wicaksono, menyebut bahwa secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid. Meskipun kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.

Parfum umumnya mengandung bahan kimia seperti phthalates, paraben, dan triclosan. Zat-zat ini dikenal sebagai endocrine disruptors, yaitu senyawa yang berpotensi mengganggu sistem hormon dalam tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara paraben juga dapat mengganggu keseimbangan sistem endokrin. Selain itu, zat-zat tersebut bisa terserap melalui kulit, terutama jika digunakan secara rutin dalam jangka panjang.

Menyemprotkan parfum langsung ke leher tidak disarankan karena kulit di area ini relatif tipis dan sensitif. Selain lebih mudah mengalami iritasi, letaknya yang dekat dengan kelenjar tiroid membuat paparan bahan kimia berpotensi berdampak lebih besar.

Paparan berulang dalam jangka panjang secara teoritis dapat meningkatkan risiko gangguan hormon. Namun demikian efeknya tidak terjadi secara instan.

Berikut beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

  • Risiko gangguan tiroid
    Kelenjar tiroid berada di leher dan sensitif terhadap paparan bahan kimia. Penggunaan parfum berlebihan dalam jangka panjang berpotensi mengganggu fungsi hormon.
  • Kulit mudah iritasi dan alergi
    Kulit leher lebih tipis dibandingkan area lain, sehingga lebih rentan mengalami dermatitis kontak atau reaksi alergi.
  • Fotosensitivitas (fotonoksilosis)
    Kombinasi bahan parfum dan paparan sinar matahari dapat memicu noda gelap (hiperpigmentasi) atau reaksi fotoalergi pada kulit.
  • Risiko penuaan dini
    Kandungan alkohol dalam parfum bisa membuat kulit kering dan mempercepat kerusakan kolagen, yang berujung pada munculnya kerutan.

Meski memiliki potensi risiko, dr Agil menegaskan bahwa tidak semua orang yang memakai parfum akan mengalami gangguan kesehatan. Efeknya umumnya terjadi secara perlahan dan dipengaruhi oleh frekuensi serta durasi penggunaan.

Kelompok seperti ibu hamil, anak-anak, remaja, serta individu dengan gangguan hormon sebelumnya disarankan lebih berhati-hati.

Agar tetap bisa tampil harum tanpa risiko berlebih, ada beberapa cara yang lebih aman:

  • Semprotkan parfum pada pakaian, bukan langsung ke kulit
  • Gunakan di pergelangan tangan atau rambut
  • Hindari pemakaian berlebihan, cukup secukupnya
  • Pilih produk dengan label phthalate-free atau paraben-free

Menyemprotkan parfum di leher memang belum terbukti langsung menyebabkan kanker tiroid. Namun, adanya potensi gangguan hormon dan iritasi kulit membuat kebiasaan ini sebaiknya dihindari. Menggunakan parfum dengan cara yang lebih bijak bisa jadi langkah sederhana untuk tetap harum sekaligus menjaga kesehatan tubuh. (Hil)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....