Kenduri Ketupat, Warga Delanggu Adang Kupat Masal

  • 27 Mar 2026 08:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Klaten - Warga Desa Delanggu Kabupaten Klaten menggelar adang atau merebut kupat secara masal dengan melibatkan puluhan warga setempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gelaran Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat tahun 2026.

Ketua Panitia Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 Eksan Hartanto kepada RRI mengatakan kegiatan kenduri kupat tersebut berlangsung dua hari 26 dan 27 Maret 2026 sebagai rangkaian pra festival mbok Sri. Kegiatan diawali dengan adang kupat masal sebanyak seribu 500 kupat dengan menggunakan kurang lebih 20 tungku.

Eksan Hartanto mengatakan kenduri ketupat sendiri sudah berlangsung sudah cukup lama sekitar tahun 1950 yang dilaksankan tujuh hari setelah lebaran. Sedangkan adang kupat secara masal merupakan bentuk atau simbol gotong royong dan semangat kebersamaan masyarakat.

“Acara ini sudah berlaangsung sejak 1950 dirintis oleh para leluhur kami. Diadakan rutin setiap tahun sekali saat hari raya Bakdo Kupat H plus enam H plus tujuh lebaran. Acara ini diselenggarakan warga Kebnonsari dua hari dua malam. Tahun ini kupat yang di adang seribu 500, ada 20 tungku menggunakan bahan bakar kayu," kata Eksan Hartanto kepada RRI, Kamis 26 Maret 2026.

Dikatakan untuk hari kedua kegiatan yang dilakukan berupa kirab ambengan ketupat dan gunungan ketupat dilanjutkan dengan kenduri ketupat. Selanjutnya kegiatan dirangkai dengan halal bihalal seluruh warga kebonsari serta pagelaran wayang kulit.

Pemerhati Budaya Klaten Ansori mengatakan ketupat dapat dimaknai secara filosofi ngaku lepat atau mengakui kesalahan dalam budaya jawa. Pengakuan kesalahan dapat dilakukan kapan saja baik sebelum lebaran maupun setalah lebaran.

“Mengapa mengambil tujuh hari setelah lebaran pada dasarnya semuanya baik. Jadi falsafah kupat sebagai ngaku lepat pengakuan berdosa itu baika saja diucapkan kapanpun kepada siapapun sebelum maupun setelah lebaran bagi saya baik saja semuanya ada filosofinya. Pengakuan dosa sebelum puasa merupakan dalam rangaka mensucikan diri menyambut bulan suci romadan,” katanya.

Ansori mengatakan secara umum lebaran ketupat ataupun kupatan untuk di kabupaten Klaten dilaksanakan tujuh hari setelah lebaran. Karena ada lebaran setelah puasa ramadan dan lebaran ketupat setelah menjalani puasa sunah syawal enam hari. Adam Sutanto

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....