Lagu Dolanan ternyata Mengandung Nalar Matematika
- 20 Feb 2026 12:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Siapa sangka, lagu dolanan anak yang dulu akrab di halaman rumah saat terang bulan, ternyata menyimpan konsep matematika yang kompleks. Tidak hanya soal hitungan angka, tetapi juga pola, logika, geometri, hingga strategi sosial yang dilakukan anak-anak secara alamiah.
Hal itu diungkapkan Dosen Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sri Lestariningsih, M.Sn. (Tari), dalam Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Kamis, 19 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa matematika dalam budaya tidak selalu hadir dalam bentuk angka, melainkan terintegrasi secara inheren dalam praktik kebudayaan, termasuk lagu dolanan.
“Matematika itu tidak selalu tentang angka. Angka hanya salah satu simbolnya. Dalam lagu dolanan, anak-anak sebenarnya sudah mempraktikkan konsep geometri, modular, hingga numerisasi tanpa mereka sadari,” katanya.
Menurut Sri, konsep ini dikenal sebagai etnomatematika, gagasan yang diperkenalkan matematikawan Brazil ,Ubiratan D’Ambrosio pada 1980-an. Konsep tersebut menegaskan bahwa praktik budaya memiliki logika matematis yang membaur dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan permainan Cublak-cublak Suweng. Anak-anak menyanyikan lagu sambil memutar tangan di atas telapak teman yang menunduk. Saat lagu berhenti, mereka mengangkat tangan secara bersamaan. Dalam proses itu, terdapat konsep pengulangan pola, perkiraan giliran, hingga modular, kembali ke titik awal setelah satu siklus permainan.
“Mereka memperkirakan kapan lagu selesai dan kapan harus mengangkat tangan. Itu sudah konsep menghitung dan memperkirakan, meski tanpa menyebut angka,” ujarnya.
Contoh lain terlihat pada permainan Jamuran, di mana anak-anak membentuk lingkaran. Formasi tersebut secara sederhana merepresentasikan bentuk geometri lingkaran. Meski tidak presisi seperti gambar di buku matematika, pola ruang itu menjadi praktik geometris alami.
Tak hanya itu, Tari juga menyoroti konsep “skip counting” atau hitung loncat dalam lagu-lagu anak modern seperti “1 + 1 = 2, 2 + 2 = 4”. Dalam pola tersebut, bilangan ganjil terlewati, yang dalam matematika dikenal sebagai penghitungan loncat.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa lagu dolanan juga mengandung sistem reward and punishment. Anak yang “kalah” dalam permainan akan mendapat giliran menjadi penjaga. Pola ini menunjukkan logika sistem, keteraturan (order), dan konsekuensi yang merupakan bagian dari nalar matematis yang lebih luas.
Namun demikian, Tari mengakui bahwa tidak semua lagu dolanan bersifat matematis. Lagu dolanan yang berkembang di era penjajahan, misalnya, banyak berfungsi sebagai media kritik sosial atau propaganda, sehingga unsur matematis bukan lagi tujuan utama.
Ia menilai, lagu dolanan berpotensi menjadi media pembelajaran matematika yang menyenangkan di sekolah, terutama pada jenjang PAUD dan SD. Metode learning by doing memungkinkan anak belajar konsep geometri dan numerik tanpa merasa sedang belajar matematika. “Dekatkan matematika sebagai sesuatu yang menyenangkan. Lagu dolanan bisa menjadi jembatan agar anak tidak lagi melihat matematika sebagai momok,” ucapnya.
Meski saat ini lagu dolanan dinilai mengalami “mati suri” dalam praktik keseharian, Tari optimistis revitalisasi dapat dilakukan melalui integrasi kurikulum, digitalisasi, dan kreativitas generasi muda.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada anak-anak, melainkan pada kesadaran orang tua dan sistem pendidikan untuk menghidupkan kembali warisan budaya tersebut. “Produk budaya itu tidak pernah lepas dari matematika. Tinggal bagaimana kita menyadarinya dan mengemasnya kembali agar relevan dengan zaman,” ujarnya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....