Ki Padmasusastra, Tapak Jejak Sang Penjaga Sastra Jawa

  • 13 Feb 2026 15:05 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Nama Ki Padmasusastra mungkin tidak sepopuler para pujangga keraton, namun kiprahnya dalam dunia sastra Jawa meninggalkan jejak yang sangat penting. Sosok yang dikenal sebagai tiang mardika kang marsudi kasusastran Jawi ini mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan dan menyebarluaskan karya sastra Jawa di luar tembok keraton.

Hal tersebut disampaikan Kanjeng Raden Aryo Tumenggong Suparjo Dwijo Hadinagoro dalam Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Kamis 12 Februari 2026. “Ki Padmasusastra memang bukan pujangga, tetapi karya-karyanya bisa disejajarkan dengan para pujangga besar. Beliau menyatakan diri sebagai tiang mardika yang sepenuhnya berjuang untuk sastra Jawa,” ujarnya.

Lahir di Surakarta pada 21 April 1843 dengan nama kecil Suwardi, Ki Padmasusastra sempat mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta dan berguru kepada Raden Ngabehi Ronggowarsito. Meski tidak menempuh pendidikan formal, ia dikenal sebagai pembelajar otodidak yang tekun dan rendah hati.

Salah satu karya monumentalnya adalah Serat Bauwarna, yang menjadi fondasi penting lahirnya kamus bahasa Jawa modern. “Beliau ingin menjadi lumbung tembung, tempat berhimpunnya kosakata Jawa. Karyanya tidak hanya mencatat kata, tetapi juga memberi contoh penggunaannya,” ucap Suparjo.

Tak hanya menulis karya asli, Ki Padmasusastra juga berperan sebagai penyunting naskah-naskah pujangga terdahulu. Ia menjembatani karya sastra yang sebelumnya terbatas di lingkungan keraton agar dapat dinikmati masyarakat luas melalui penerbitan cetak.

Menurut Suparjo, warisan intelektual Ki Padmasusastra masih sangat relevan hingga kini, terutama dalam menjaga tata krama bahasa dan unggah-ungguh. “Di tengah degradasi penggunaan bahasa Jawa, pemikiran beliau tetap penting sebagai referensi dan pedoman,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budayanya. Melalui kiprahnya, Ki Padmasusastra menunjukkan bahwa mencintai bahasa sendiri adalah bentuk perjuangan intelektual.

Semangatnya dalam marsudi kasusastran Jawi menjadi inspirasi. Untuk terus merawat dan menghidupkan budaya Jawa di tengah arus zaman. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....