Legenda Nian Jadi Asal-Usul Tradisi Imlek

  • 13 Feb 2026 14:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta — Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah, lampion, petasan, hingga barongsai. Namun di balik kemeriahannya, terdapat legenda kuno tentang makhluk buas bernama Nian yang menjadi asal-usul tradisi tersebut.

Hal itu diungkapkan Dosen Prodi S1 Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNS Surakarta, Ulfah Yanuar Lianisyah, Mtcsol, dalam dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta pada 6 Februari 2026. Menurutnya, dalam legenda masyarakat Tiongkok, Nian adalah makhluk mitologi yang datang setiap akhir tahun dan meresahkan warga.

“Dalam bahasa Mandarin, ‘nian’ berarti tahun. Tapi dalam legenda, Nian digambarkan sebagai makhluk buas yang menyerang manusia dan merusak ladang,” kata Ulfah.

Ia menuturkan, masyarakat dahulu menemukan cara mengusir Nian, yakni dengan warna merah dan suara gaduh. “Makhluk ini takut warna merah dan suara berisik seperti petasan atau genderang. Dari situlah muncul tradisi memasang ornamen merah dan menyalakan petasan saat Imlek,” ujarnya.

Warna merah yang kini mendominasi perayaan Imlek tidak hanya bermakna mengusir bahaya, tetapi juga melambangkan keberanian dan harapan. Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi simbol kebahagiaan dan semangat menyongsong tahun baru.

Selain itu, tradisi pemberian angpau juga memiliki cerita tersendiri. Ulfah menjelaskan, pada masa lalu orang tua memberikan koin yang diikat benang merah sebagai pelindung anak dari gangguan roh jahat.

“Sekarang bentuknya berubah menjadi amplop merah berisi uang, tetapi maknanya tetap sebagai doa dan perlindungan,” katanya.

Mahasiswi Bahasa Mandarin UNS, Anis Kusuma Damayanti, menambahkan, perayaan Imlek di Indonesia juga diwarnai tradisi makan bersama keluarga. “Biasanya ada hidangan ikan sebagai simbol keberkahan, mie panjang umur, dan kue lapis yang melambangkan rezeki berlapis-lapis,” ujarnya.

Menurutnya, makna Imlek saat ini bukan lagi tentang ketakutan terhadap legenda, melainkan simbol persatuan dan kebersamaan. “Legenda Nian justru mengajarkan bahwa masyarakat bisa bersatu untuk menghadapi tantangan bersama,” katanya.

Melalui dialog ini, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa tradisi Imlek bukan sekadar dekorasi merah atau pesta kembang api. Melainkan memiliki akar budaya dan filosofi yang panjang. (Hil)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....