Geliat Event di Kota Solo Jadi Angin Segar Bagi Pelaku UMKM

  • 06 Mei 2026 06:57 WIB
  •  Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Solo mulai menunjukkan geliat positif. Maraknya berbagai gelaran acara (event) di Kota Solo, baik yang berlokasi di pusat perbelanjaan maupun instansi pemerintah, dinilai efektif mendongkrak pergerakan usaha dan volume produksi para pelaku kreatif.

Admin Batiqe Kurkur, Ristanti, mengungkapkan bahwa intensitas event yang tinggi memberikan dampak signifikan bagi eksistensi UMKM. Menurutnya, keterlibatan dalam pameran menjadi ruang promosi strategis sekaligus pintu masuk untuk meningkatkan omzet penjualan.

"Kesempatan terlibat dalam berbagai pameran menjadi ruang promosi sekaligus peningkatan penjualan," ujar Ristanti saat ditemui RRI, Rabu 6 Mei 2026.

Meski demikian, ia menekankan bahwa upaya untuk "naik kelas" tidak bisa hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Kemauan dan daya juang pelaku usaha untuk berkembang menjadi faktor penentu utama. Ristanti juga menyoroti tantangan klasik yang kerap dihadapi, yakni pemahaman akses dukungan serta dinamika selera pasar yang cepat berubah.

"Tantangan terbesar yang dihadapi adalah pasar, khususnya terkait selera konsumen yang terus berubah. Kami aktif mengikuti berbagai informasi, pelatihan, serta program dari dinas guna meningkatkan kapasitas usaha," katanya menambahkan.

Sejauh ini, dukungan pemerintah seperti fasilitasi pameran, pelatihan, hingga penyediaan galeri UMKM di Kompleks Balai Kota Solo dirasa cukup membantu dalam memperluas jaringan dan akses pasar bagi para perajin.
Koleksi UMKM batiqe Kurkur mojosongo, Solo ( Foto: RRI/ SF)

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surakarta, Agung Riyadi, mencatat saat ini terdapat sekitar 18 ribu UMKM di Solo yang bergerak di sektor kuliner, fashion, hingga kerajinan. Namun, ia mengakui mayoritas pelaku usaha masih berada pada level mikro.

Untuk mendorong UMKM naik kelas, Pemerintah Kota Surakarta telah menggulirkan sejumlah program strategis, di antaranya inkubasi bisnis atau pendampingan intensif selama tiga bulan bagi pelaku usaha.

Lantas bantuan modal berupa alat penunjang produksi. Pemasaran digital dengan fasilitasi perluasan pasar melalui marketplace. Serta legalitas usaha percepatan kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Halal, hingga izin PIRT.

“Kami ingin UMKM di Solo tidak hanya berkembang di pasar lokal dan nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional,” ujar Agung.

Kendati demikian, Agung mengakui masih terdapat kendala di lapangan, terutama terkait konsistensi pelaku UMKM dalam mengikuti program pendampingan. Selain itu, faktor daya beli masyarakat juga turut memengaruhi laju pertumbuhan UMKM.

Pemerintah berharap, melalui penguatan ekosistem bisnis dan meningkatnya kecintaan masyarakat terhadap produk lokal, kualitas UMKM di Surakarta dapat terus meningkat secara berkelanjutan. (SF/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....