Solo Batik Fashion Tegaskan Penggunaan Batik Asli
- 03 Okt 2025 22:58 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Solo Batik Fashion (SBF) 2025 kembali hadir sebagai ajang peragaan busana yang menegaskan pentingnya menjaga batik sesuai kodratnya. Digelar di Balai Panggeran Taman Balekambang, SBF berlangsung selama tiga hari, Jumat–Minggu (3–5/10/2025), dan menampilkan beragam karya desainer yang menggabungkan nilai tradisi dengan tren modern.
Beragam karya desainer yang menggabungkan nilai tradisi dengan tren modern juga ditampilkan.
Acara tahun ini mengusung tema “Dahulu, Sekarang, Nanti” yang mencerminkan perjalanan batik dari masa ke masa. Koleksi yang ditampilkan tidak hanya relevan bagi generasi muda, tetapi juga tetap elegan bagi generasi yang lebih tua.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mendukung pelestarian batik asli agar para pengrajin tetap sejahtera.

menampilkan beragam karya desainer yang menggabungkan nilai tradisi dengan tren modern ( Foto: RRI/ DIQI)
“Di Kota Surakarta harus memakai batik cap ataupun batik tulis. Para pengrajin tidak boleh terjajah oleh batik printing yang produksinya masif dan dapat menggeser eksistensi batik tradisional,” ujar Respati.
Komitmen tersebut juga menjadi prinsip utama penyelenggaraan SBF tahun ini. Pemerintah mendorong pemberdayaan batik cap dan batik tulis karena keduanya merupakan hasil karya asli pengrajin yang mencerminkan nilai budaya dan tradisi Indonesia.
Desainer asal Solo, Djongko Rahardjo, menegaskan bahwa SBF digelar untuk mengingatkan kembali makna sejati batik sebagai warisan budaya yang perlu dijaga prosesnya
“Batik bukan sekadar kain bermotif batik, tetapi hasil dari proses yang sesungguhnya. Karena itu, seluruh karya dalam ajang ini wajib menggunakan batik cap atau tulis sesuai tradisi,” ujar Djongko.
Menurutnya, pelaksanaan SBF juga diharapkan menjadi media edukasi agar masyarakat memahami perbedaan antara batik asli hasil proses tradisional dan batik printing yang diproduksi industri, serta lebih mencintai batik karya pengrajin lokal.
SBF 2025 diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa batik bukan hanya busana, tetapi simbol identitas bangsa yang layak dijaga kelestariannya. Ajang ini juga menjadi sarana bagi pelaku industri kreatif untuk memperkenalkan karya batik Indonesia ke panggung yang lebih luas. (Diq)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....