Standar TikTok Merusak Mindset, Fakta atau Mitos?
- 02 Jul 2024 10:28 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: TikTok, sebuah platform media sosial berbasis video yang sangat populer, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang, terutama generasi muda. Namun, seiring dengan popularitasnya, muncul kekhawatiran bahwa standar-standar yang berkembang di TikTok dapat merusak mindset penggunanya.
TikTok dikenal dengan beragam trend dan tantangan yang kerap viral dalam waktu singkat. Pengguna sering kali berlomba-lomba untuk mengikuti tren terbaru dan mendapatkan likes serta views sebanyak mungkin. Beberapa standar yang sering muncul di TikTok antara lain:
1. Standar Kecantikan, banyak video yang menampilkan standar kecantikan tertentu, seperti tubuh langsing, kulit mulus, dan wajah simetris.
2. Gaya Hidup Mewah, banyak konten yang menampilkan gaya hidup mewah yang sulit dicapai oleh kebanyakan orang.
3. Pencapaian Sosial, popularitas di TikTok sering diukur dari jumlah pengikut dan interaksi yang didapatkan.
Dr. Sarah Diefenbach, seorang profesor psikologi dari Ludwig-Maximilians-Universität München, menyatakan bahwa media sosial sering kali menampilkan gambaran hidup yang telah "dipoles" dan tidak realistis. "Ini dapat menciptakan tekanan bagi individu untuk hidup sesuai dengan standar yang tidak mungkin dicapai," katanya.
Sementara itu, Dr. Mark Griffiths, seorang profesor perilaku kecanduan di Nottingham Trent University, menekankan pentingnya kesadaran dan pendidikan digital. "Kita perlu mengedukasi pengguna, terutama yang muda, tentang realitas di balik media sosial dan bagaimana menggunakannya secara sehat," ujarnya.
TikTok dan platform media sosial lainnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap mindset penggunanya. Standar-standar yang muncul di platform ini dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti penurunan harga diri, FOMO, konsumsi berlebihan, dan ketergantungan sosial media. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk memiliki kesadaran kritis dan mengelola penggunaan media sosial dengan bijak. Edukasi digital dan dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat diperlukan untuk membantu pengguna mengatasi dampak negatif dari standar-standar tersebut. (LPU_Aldi)
Sumber:
1. Grabe, S., Ward, L. M., & Hyde, J. S. (2008). The role of the media in body image concerns among women: A meta-analysis of experimental and correlational studies. Psychological Bulletin, 134(3), 460.
2. Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841-1848.
3. Dittmar, H. (2007). Consumer Culture, Identity and Well-Being: The Search for the 'Good Life' and the 'Body Perfect'. Psychology Press.
4. Andreassen, C. S., Torsheim, T., Brunborg, G. S., & Pallesen, S. (2012). Development of a Facebook addiction scale. Psychological Reports, 110(2), 501-517.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....