Peran RRI Sebagai Pelestari Budaya di tengah Modernisasi Media
- 14 Sep 2026 04:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah derasnya arus modernisasi media, budaya menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Kehadiran media digital, media sosial, hingga berbagai platform hiburan membuat masyarakat memiliki begitu banyak pilihan informasi dan konten. Di satu sisi, perkembangan ini membuka ruang yang luas bagi budaya untuk dikenal lebih banyak orang. Namun di sisi lain, budaya lokal juga menghadapi risiko semakin terpinggirkan dan ditinggalkan, khususnya oleh generasi muda.
Di sinilah media publik memiliki peran yang sangat penting. Radio Republik Indonesia, sebagai salah satu media yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa, tidak hanya hadir sebagai sumber informasi dan hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memperkenalkan, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia.
“ RRI berdiri pada 11 September 1945, tetapi sejarah penyiaran di Surakarta telah dirintis sejak Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1933 oleh Mangkunegoro VII, “ ucap Ki. Ng Edy Sulistiono, S.Sn., M.Hum - Budayawan RRI Surakarta membuka Bincang pagi RRI Surakarta yang dipandu Riandani Surya.
Sejak awal, radio tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga alat perjuangan budaya untuk membangun identitas Nusantara dan melawan dominasi budaya kolonial.Budaya menjadi bagian penting dari identitas RRI Surakarta, termasuk melalui klenengan, wayang orang, dan kesenian Jawa.
Modernisasi tidak harus dianggap sebagai ancaman bagi budaya. Sebaliknya, teknologi digital dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan budaya. Salah satu contohnya adalah Wayang Digital RRI Surakarta, yang dikemas dalam bahasa Indonesia, berdurasi lebih singkat, menggunakan iringan kontemporer, dan ditayangkan secara visual melalui YouTube agar lebih menarik bagi generasi muda.
Modernisasi media bukan alasan bagi RRI untuk meninggalkan budaya, tetapi justru menjadi kesempatan untuk melestarikannya dengan cara yang lebih relevan. RRI perlu terus menggabungkan kekuatan radio dengan teknologi digital dan media sosial, sekaligus mempertahankan identitas serta kearifan lokal.
Sedangkan menurut Adhika Prasetya Kusharsanto, S,Sos., M.M - Dosen Ilmu Komunikasi Univet Bantara Sukoharjo, RRI telah beradaptasi dengan konsep multiplatform, tidak hanya melalui siaran terestrial, tetapi juga website, YouTube, podcast, aplikasi RRI Digital, TikTok, Instagram, Facebook, dan platform lainnya.
Pembagian program menjadi Pro 1, Pro 2, Pro 3, dan Pro 4 memungkinkan RRI menjangkau kelompok pendengar yang berbeda, termasuk anak muda dan masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap budaya daerah. Keunggulan radio adalah dapat didengarkan sambil melakukan aktivitas lain, seperti mengemudi atau memasak.
RRI dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi yang valid dan terverifikasi.Di tengah maraknya informasi di media sosial, masyarakat perlu melakukan pengecekan terhadap kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Meskipun RRI terus mengikuti perkembangan teknologi, identitas budaya daerah tidak boleh ditinggalkan.RRI Surakarta diharapkan tetap mempertahankan program-program budaya seperti wayang, ketoprak, karawitan, geguritan, dan berbagai konten kebudayaan lainnya. ( Ria )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....