Musim Kemarau BPBD Sukoharjo Droping Air Bersih

  • 08 Sep 2026 21:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Musim kemarau mulai membawa dampak bagi sejumlah wilayah di Kabupaten Sukoharjo. Berkurangnya ketersediaan air membuat sebagian masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Kondisi kekeringan Hingga 1 September, terdapat 12 desa di 3 kecamatan yang mengalami kekurangan air, yaitu Tawangsari (2 desa), Bulu (4 desa), dan Weru (6 desa). Sekitar 1.110 KK atau 3.720 jiwa terdampak, ujar Ariyanto Mulyatmojo, S.H ( Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo ) di acara Beranda Astacita Siaran Tanggap Bencana RRI Surakarta.

Untuk membantu warga yang terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Sukoharjo melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Hingga akhir Agustus 2026, distribusi air bersih bahkan telah menjangkau sejumlah desa terdampak Bantuan air bersih BPBD telah menyalurkan ratusan tangki air bersih dengan kapasitas sekitar 5.000 liter per tangki. Bantuan berasal dari APBD, CSR, TNI, Polri, PMI, Baznas, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya.

“ Di wilayah desa Weru terdapat sekitar 196 KK atau 573 jiwa terdampak. Sumur warga banyak yang mengering sehingga kebutuhan air sangat bergantung pada dropping dan pembelian air “ ucap Wulan Suciati, S.Kom., MAP ( Pj. Kades Weru Sukoharjo )

Mekanisme dropping dengan Pengajuan berasal dari masyarakat/desa, kemudian BPBD melakukan asesmen kondisi lapangan dan berkoordinasi dengan kepala desa. Jumlah tangki disesuaikan dengan kondisi sumber air, jumlah warga terdampak, dan kapasitas penampungan.Kekeringan juga mengurangi aktivitas pertanian. Di Weru, yang biasanya dapat melakukan tiga kali masa tanam, saat kemarau hanya sekitar dua kali. Warga mulai mencoba tanaman hortikultura seperti melon sebagai alternatif.

Solusi jangka Panjang BPBD mendorong pembangunan sumur dalam, penambahan tandon air, serta pemanfaatan sumber air yang tersedia. Beberapa sumur dalam yang sudah dibuat terbukti mampu mengurangi ketergantungan warga terhadap dropping air.Pentingnya menanam pohon yang mampu menyimpan air, membuat sumur resapan dan biopori, serta tidak hanya mengambil air tanah tetapi juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.

Masyarakat juga dianjurkan mulai memanen dan menyimpan air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi, seperti menyiram tanaman dan memberi minum ternak.Kekeringan diperkirakan masih dapat berlangsung hingga akhir November atau awal Desember, sehingga masyarakat diminta menghemat dan menggunakan air secara bijaksana.

Penanganan kekeringan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Diperlukan kerja sama masyarakat dalam menghemat air, menjaga lingkungan, membuat sumber air alternatif, dan melakukan konservasi agar persoalan kekurangan air dapat diatasi secara permanen. ( Ria )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....