Kintsugi, Seni Indah dari Kerusakan

  • 07 Sep 2026 16:50 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kintsugi merupakan seni tradisional Jepang untuk memperbaiki keramik yang pecah menggunakan lak urushi dan bubuk emas atau logam berharga lainnya. Berbeda dari teknik perbaikan yang berusaha menyembunyikan kerusakan, kintsugi justru menonjolkan retakan sebagai bagian dari sejarah benda tersebut.

Secara harfiah, kintsugi berarti ‘sambungan emas’ atau ‘golden joinery’. Dilansir dari situs jepang travel (30 September 2021), teknik ini memiliki keterkaitan erat dengan budaya upacara minum teh Jepang dan berkembang sebagai cara untuk memberikan kehidupan kedua pada benda-benda keramik yang rusak.

Masih dilansir di situs yang sama, lebih dari sekadar teknik memperbaiki keramik, filosofi kintsugi sering dikaitkan dengan wabi-sabi, yaitu cara pandang yang menerima ketidaksempurnaan, perubahan, dan kefanaan. Retakan yang diberi warna emas menjadi simbol bahwa kerusakan tidak selalu harus disembunyikan, tetapi dapat menjadi bagian yang membuat sesuatu memiliki cerita dan nilai baru.

Dalam praktik tradisionalnya, pecahan keramik disatukan menggunakan urushi, kemudian bagian sambungannya dilapisi dan dihiasi dengan bubuk emas. National Museum of Asian Art Smithsonian menjelaskan bahwa proses tersebut bukan hanya memperbaiki fungsi benda, tetapi juga mengubah tampilan keramik melalui garis-garis retakan yang menjadi elemen estetis.

Di era modern, kintsugi Jepang semakin dikenal sebagai inspirasi tentang ketahanan, penerimaan diri, keberlanjutan, dan kesempatan untuk memulai kembali. Pesan sederhananya sangat relevan dengan kehidupan: sesuatu yang pernah rusak tidak berarti kehilangan seluruh nilainya, karena pengalaman dan luka yang dimiliki justru dapat menjadi bagian dari keindahannya. (LPU_Aldi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....