Sejarah Serangan 4 Agustus 1949 Tentara Pelajar Monumen Purworejan
- 23 Agt 2026 15:23 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Peristiwa Serangan 4 Agustus 1949 Tentara Pelajar Monumen Purworejan menjadi bagian dari perjuangan para pemuda dan Tentara Pelajar dalam menghadapi situasi politik dan militer pada masa Revolusi Kemerdekaan. Monumen Purworejan menjadi salah satu pengingat bahwa di balik perjalanan sejarah bangsa, terdapat keberanian, pengorbanan, dan semangat para pelajar yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Belanda menduduki Yogyakarta dan kemudian Solo.Para pejuang di Solo tidak menyerah, tetapi bergerak secara bawah tanah dan membangun pertahanan di berbagai sektor.Puncaknya adalah Serangan Umum 4 Hari di Solo, 7–10 Agustus 1949, yang melibatkan TNI, laskar rakyat, dan Tentara Pelajar.
“Kekuatan Tentara Pelajar terletak pada keberanian, kekompakan, semangat tanpa pamrih, kepercayaan diri, serta kecerdikan dalam menyusun strategi, “ ucap Dani Saptoni di Obrolan Komunitas RRI Surakarta 18 Agustus 2026.
Tentara Pelajar terdiri dari anak-anak muda, bahkan sebagian masih berusia sekitar 12–23 tahun.Mereka tidak hanya bertempur, tetapi juga menjalankan tugas intelijen, logistik, komunikasi, dan pembuatan senjata.Persenjataan diperoleh dari peninggalan Jepang, hasil rampasan, maupun senjata rakitan.Purworejan menjadi lokasi penting karena berada di jalur Solo–Sragen dan merupakan bagian dari pertahanan Belanda.Pasukan TP di bawah pimpinan Sutoyo Darmosarkoro melakukan operasi untuk merebut pemancar radio dan persenjataan Belanda.Operasi tersebut dilakukan melalui pendekatan intelijen dan kerja sama dengan dua polisi Belanda, Ngadino dan Suwandi, yang ternyata bersimpati atau telah bekerja untuk pihak Indonesia.
Pertempuran dibuat seolah-olah sebagai serangan biasa, sementara tujuan utamanya adalah merebut peralatan komunikasi.Pemancar radio yang berhasil direbut kemudian diserahkan kepada Maladi dan akhirnya dibawa ke Balong.Keberhasilan ini penting karena membantu menyebarkan berita perjuangan dan Serangan Umum Solo ke luar daerah, bahkan ke dunia internasional.
Retno, putri Sutoyo Darmosarkoro, menceritakan bahwa ayahnya adalah sosok yang disiplin, jujur, nasionalis, dan sederhana. Ia juga pernah terlibat dalam perakitan senjata di Pracimantoro, Wonogiri.Menurut Retno, ayahnya mendidik delapan anak dengan prinsip disiplin, pendidikan, kejujuran, dan kecintaan kepada negara. Ia berharap kisah perjuangan ayahnya dapat didokumentasikan dalam bentuk tulisan atau buku.
Monumen Purworejan dianggap sebagai penanda peristiwa sejarah yang selama ini kurang dikenal.Dani menilai monumen tersebut perlu dirawat dan lebih diperkena lkan kepada generasi muda.Secara administratif, tanggung jawab berada di Kabupaten Karanganyar, tetapi secara historis monumen tersebut merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa yang menjadi tanggung jawab bersama.
Generasi muda masa kini tidak perlu mengangkat senjata seperti Tentara Pelajar dahulu. Bentuk perjuangan mereka Adalah belajar dengan sungguh-sungguh,menjaga integritas dan disiplin,membangun karakter dan budi pekerti,mencintai bangsa dan negara dan menggunakan kecerdasan untuk kepentingan masyarakat.
Peristiwa Purworejan menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya mengandalkan keberanian fisik, tetapi juga kecerdasan, strategi, intelijen, solidaritas rakyat, dan kemampuan berkomunikasi. Karena itu, sejarah lokal seperti perjuangan Tentara Pelajar di Solo perlu dirawat, didokumentasikan, dan dikenalkan kepada generasi muda agar nilai perjuangan, nasionalisme, integritas, dan pengorbanan para pejuang tidak hilang. ( Ria )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....