UNIBA Surakarta Dorong Ekonomi Sirkular Purwosari melalui Biodigester & Maggot
- 20 Agt 2026 15:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Sampah organik rumah tangga sering kali berakhir sebagai limbah yang harus diangkut dan dibuang. Padahal, jika dipilah dan diolah sejak dari sumbernya, sampah tersebut dapat berubah menjadi energi, pupuk, pakan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Gagasan inilah yang dikembangkan Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Program tersebut mengintegrasikan teknologi anaerobic biodigester dan budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk membangun pola pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.
Persoalan sampah sebenarnya bukan hanya tentang seberapa banyak sampah yang dihasilkan, tetapi juga tentang bagaimana sampah tersebut diperlakukan. Ketika sampah organik tercampur dengan sampah lainnya, nilai yang terkandung di dalamnya ikut hilang. Sebaliknya, pemilahan dari sumber membuka peluang agar material organik kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan. Pendekatan berbasis maggot bahkan telah dikaji sebagai salah satu model pengelolaan sampah organik dalam kerangka ekonomi sirkular. Maggot BSF dapat mengonversi bahan organik menjadi biomassa yang bernilai, sementara residunya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Salah satu teknologi yang diterapkan UNIBA Surakarta adalah anaerobic biodigester tipe Floating Drum berkapasitas 3.000 liter di RW 13 Kelurahan Purwosari. Fasilitas ini dirancang sebagai percontohan pengolahan sampah organik menjadi biogas dan residu organik. Secara sederhana, sampah organik yang sesuai dimasukkan ke dalam biodigester dan mengalami proses penguraian tanpa oksigen. Proses tersebut menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, sementara material sisa atau slurry dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Dengan demikian, satu aliran sampah dapat menghasilkan lebih dari satu manfaat: sampah berkurang, energi dihasilkan, dan residu tetap dimanfaatkan.
Di RW 14, UNIBA mengembangkan fasilitas budidaya Maggot BSF. Larva BSF dimanfaatkan untuk mengolah fraksi sampah organik yang sesuai sebagai media budidaya. Maggot menarik bukan hanya karena kemampuannya memanfaatkan bahan organik, tetapi juga karena hasil budidayanya dapat menjadi biomassa yang berpotensi digunakan sebagai pakan, sedangkan residu budidayanya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Model berbasis maggot berpotensi mengurangi sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir sekaligus menghasilkan produk bernilai seperti pakan dan pupuk organik.
Ada satu hal penting yang sering terlupakan dalam penerapan teknologi lingkungan: alat tidak akan bekerja tanpa manusia yang mampu mengoperasikannya. Karena itu, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNIBA Surakarta tidak berhenti pada pemasangan biodigester dan fasilitas maggot. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan identifikasi masalah, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan kepada kader masyarakat, Karang Taruna, serta perwakilan RW 13 dan RW 14. Materi meliputi pengoperasian biodigester, manajemen biogas, budidaya maggot dari telur hingga panen, serta pemanfaatan slurry dan kasgot sebagai pupuk organik. Tim juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) agar masyarakat memiliki pedoman dalam menjalankan dan memelihara teknologi tersebut. Pendampingan dilakukan melalui monitoring operasional, kontinuitas bahan baku, pemeliharaan biodigester, perkembangan budidaya maggot, hingga pemanfaatan hasil dan residu.
Ketua tim PkM UNIBA, Ir. Bagas Wahyu Adhi, S.T., M.T., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas. “Yang kami bangun bukan hanya fasilitas, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengelola sampah organik secara mandiri. Harapannya, sampah yang sebelumnya menjadi persoalan dapat dimanfaatkan menjadi sumber daya yang bernilai.”
| Baca juga: Khasiat Ikan Dewa yang Jadi Lauk Wajib |
Selama ini pola pengelolaan sampah banyak berlangsung secara linear: sampah dihasilkan, dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang. Pendekatan ekonomi sirkular mencoba mengubah pola tersebut menjadi sebuah siklus: pilah, olah, manfaatkan, dan kembalikan nilai material ke dalam sistem. Dalam model yang dikembangkan di Purwosari, sampah organik yang sesuai dapat diarahkan melalui dua jalur teknologi. Sebagian diolah melalui biodigester untuk menghasilkan biogas dan slurry, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot. Hasil dan residunya kemudian dapat dimanfaatkan kembali. Model semacam ini juga sejalan dengan berbagai kajian yang menempatkan maggot BSF sebagai salah satu pendekatan ekonomi sirkular karena mampu mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai dan residu yang dapat dimanfaatkan kembali.

Hal yang menarik dari program ini adalah penempatan Karang Taruna sebagai salah satu pengelola utama. Artinya, keberlanjutan program tidak sepenuhnya bergantung pada tim perguruan tinggi. Pemasangan fasilitas dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan tim pengabdian, mahasiswa, pemuda Karang Taruna, dan masyarakat. Proses tersebut sekaligus menjadi transfer teknologi agar masyarakat memahami komponen, cara kerja, pengoperasian, dan pemeliharaan fasilitas. Pendekatan ini penting karena pengelolaan sampah berbasis masyarakat pada akhirnya membutuhkan rasa memiliki. Ketika masyarakat menjadi pengguna sekaligus pengelola, teknologi memiliki peluang lebih besar untuk terus berjalan setelah program selesai.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNIBA di Kelurahan Purwosari yang di danai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Sampah organik tidak selalu harus diposisikan sebagai beban yang membutuhkan biaya untuk diangkut dan dibuang. Tetapi dapat menjadi bahan baku energi, pupuk, pakan, dan kegiatan ekonomi. Pemilahan harus dilakukan sejak sumber, pasokan bahan organik harus terjaga, teknologi harus dirawat, dan hasil pengolahan harus memiliki pemanfaatan yang jelas serta pentingnya keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha serta dukungan infrastruktur agar model pengelolaan organik berbasis maggot dapat berkembang.
Karena itu, penerapan biodigester di RW 13 dan budidaya maggot di RW 14 bukanlah akhir dari sebuah program, melainkan awal dari ekosistem pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat. Pada akhirnya, ekonomi sirkular bukan sekadar istilah tentang teknologi hijau. Ia adalah perubahan cara berpikir: dari membuang menjadi mengolah, dari limbah menjadi sumber daya, dan dari persoalan lingkungan menjadi peluang bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....