Gula Batu, Pemanis Kristal yang Tetap Populer

  • 18 Agt 2026 12:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Gula batu merupakan salah satu jenis pemanis yang cukup dikenal di Indonesia dan negara-negara Asia. Bentuknya berupa bongkahan kristal berukuran lebih besar dibandingkan gula pasir sehingga memiliki tampilan yang khas. Gula ini sering digunakan untuk memberikan rasa manis pada teh, minuman herbal, kopi, dan berbagai sajian tradisional.

Di masyarakat, gula batu kerap dianggap memiliki rasa manis yang lebih lembut dibandingkan gula pasir. Karena bentuknya berupa bongkahan, gula batu juga sering digunakan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam minuman panas dan dibiarkan perlahan larut. Penggunaan seperti ini membuat gula batu cukup populer sebagai pelengkap teh hangat maupun minuman tradisional.

Meski sering dianggap lebih sehat daripada gula pasir, anggapan tersebut perlu disikapi dengan bijak. Gula batu pada dasarnya tetap merupakan sumber gula dan perbedaan kandungan sukrosa antara gula batu dan gula pasir relatif kecil. Karena itu, jumlah konsumsi tetap perlu diperhatikan agar asupan gula harian tidak berlebihan.

Selain untuk konsumsi rumah tangga, gula batu juga memiliki nilai menarik dari sisi proses pengolahan pangan. Ukuran kristalnya dapat dipengaruhi oleh bahan awal, konsentrasi larutan, proses pemanasan, waktu kristalisasi, serta keberadaan mineral tertentu. Studi yang diterbitkan dalam jurnal *Sugar Tech* menemukan bahwa kristal gula batu dari bahan dengan kemurnian lebih tinggi dapat mencapai ukuran sekitar 2–5 sentimeter dalam kondisi penelitian tertentu.

Gula batu akhirnya bukan sekadar pemanis berbentuk bongkahan, tetapi juga merupakan produk pangan yang menarik karena proses kristalisasinya. Kehadirannya dalam berbagai minuman menunjukkan bahwa pemanis sederhana ini masih memiliki tempat dalam kebiasaan konsumsi masyarakat. Dengan penggunaan secukupnya, gula batu dapat menjadi pilihan pemanis untuk berbagai sajian tanpa mengabaikan pentingnya menjaga pola konsumsi gula secara keseluruhan. ( Fara LPU)

Sumber :

  1. Lim, T. S. E., Chia, K. F., Loo, L. M., & Wong, S. Y. (2021). *Rock Sugar Crystallization: The Effect of Mineral Impurities*. **Sugar Tech**, 23, 1432–1439. [Artikel jurnal Springer Nature](https://link.springer.com/article/10.1007/s12355-021-00991 7?utm_source=chatgpt.com)
  2. AGRIS – FAO, data publikasi penelitian gula batu (https://agris.fao.org/search/en/providers/122535/records/65df36c44c5aef494fe0e5b8?utm_source=chatgpt.com)
  3. (Halodoc – Rock Sugar: Manis Alami Gula Batu) (https://www.halodoc.com/artikel/rock-sugar-manis-alami-gula-batu-lebih-sehat-dan-hemat?utm_source=chatgpt.com)
  4. (Halodoc – Mitos atau Fakta, Gula Batu Lebih Sehat dari Gula Pasir) (https://www.halodoc.com/artikel/mitos-atau-fakta-gula-batu-lebih-sehat-dari-gula-pasir?utm_source=chatgpt.com)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....