Regenerasi Seniman Muda Menjaga Warisan Budaya

  • 14 Agt 2026 18:06 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Seni dan budaya bukan sekadar warisan dari masa lalu, tetapi juga identitas yang perlu terus hidup dan berkembang di tangan generasi muda. Bagaimana upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisi? Seberapa penting regenerasi seniman untuk memastikan warisan budaya tetap lestari di tengah perkembangan zaman?

Adalah Sanggar Seni Wiratama berdiri pada 2021 di Mertaudan, Mojosongo, Surakarta. Sanggar ini berawal dari inisiatif mengumpulkan sekitar 15 anak kampung untuk belajar gamelan yang sebelumnya lama tidak digunakan.

“ Awalnya kegiatan hanya berfokus pada karawitan, kemudian berkembang dan pada 2022 didaftarkan ke Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, “ Ucap Yanuar Bintang Pramana S.Pd di Obrolan Komunitas RRI Surakarta 7 Agustus 2026.

Seiring meningkatnya minat masyarakat, Sanggar Wiratama membuka pendaftaran untuk umum dan mengembangkan tiga bidang utama, yaitu karawitan, tari, dan pedalangan.

“ Saat ini jumlah anggotanya hampir 50 orang, dengan sekitar 20–25 orang yang terlibat sebagai pengurus dan pelatih. Anggotanya berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, hingga orang yang sudah bekerja, “ Ujar Catur Prayogo Utomo, S.Sn kepada Manggala Putra yang memandu acara Obrolan Komunitas.

Para pengelola sanggar memiliki latar belakang yang beragam. Ada yang berlatar pendidikan seni karawitan dan tari, tetapi ada pula yang sebelumnya menempuh bidang umum seperti IPA dan perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap seni tradisional dapat tumbuh dari pengalaman, lingkungan, maupun keinginan pribadi.Dalam bidang tari, Sanggar Wiratama mengajarkan tari klasik dan tari kreasi. Pembelajaran dilakukan secara bertahap, terutama bagi anak-anak. Seni klasik tetap menjadi dasar agar para peserta memahami pakem, sikap tubuh, teknik, dan nilai tradisi sebelum melakukan eksplorasi atau mengembangkan karya modern.

Sanggar juga tidak menolak perkembangan zaman. Para peserta diperbolehkan bereksplorasi dengan seni kontemporer dan media sosial, tetapi tetap ditekankan agar tidak meninggalkan dasar dan pakem seni tradisional. Prinsipnya, modernisasi boleh dilakukan selama akar tradisinya tetap dipahami dan dijaga.Selain keterampilan seni, Sanggar Wiratama menanamkan unggah-ungguh, sopan santun, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap menghargai orang lain. Para pengajar berharap ilmu yang diperoleh di sanggar tidak berhenti pada kegiatan latihan dan pentas, tetapi dapat menjadi bekal bagi anggota untuk berkarya dan meneruskan seni tradisional di masyarakat.

Sanggar juga berupaya memberikan ruang tampil bagi seniman muda dengan membawa peserta pentas di berbagai tempat dan menjalin kolaborasi dengan sekolah maupun komunitas seni, seperti yang disampaikan Yogi Jurian. Mereka tidak hanya menunggu adanya panggung, tetapi aktif mencari dan menciptakan ruang untuk anak-anak berekspresi.

Para narasumber menilai bahwa salah satu tantangan dalam pengelolaan sanggar adalah menjaga komunikasi antaranggota dan pengurus. Karena itu, setiap persoalan diupayakan dibicarakan bersama agar keputusan tidak hanya diambil oleh satu orangKe depan, para pengelola berharap semakin banyak generasi muda yang mau mempelajari dan mencintai seni tradisional. Mereka juga berharap pemerintah dan dinas terkait menyediakan lebih banyak ruang, panggung, kegiatan, dan dukungan bagi seniman muda.

Sanggar Seni Wiratama menjadi wadah regenerasi seniman muda dengan mengajarkan karawitan, tari, dan pedalangan, sambil tetap mempertahankan nilai, pakem, dan karakter budaya Jawa.

“ Modernisasi dan kreativitas diterima, tetapi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan akar tradisinya, Ucap Bayu Adi menutup Obrolan Komunitas yang dipandu Manggala Putra. ( Ria )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....