Lolos PTN Belum Tentu Berkuliah, Salah Jurusan Jadi Sorotan
- 26 Jul 2026 17:35 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta — Fenomena calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos Perguruan Tinggi Negeri (PTN) namun akhirnya mengundurkan diri kembali menjadi perhatian. Persoalan ini dinilai tidak hanya dipicu oleh tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi juga karena banyak mahasiswa merasa salah memilih jurusan.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Suharno, S.T., M.T., Guru Besar FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Rektor Universitas Sragen, dalam acara Obrolan Siang pada Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Prof. Suharno, data mengenai mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang pada tahun ini bahkan menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Ia meluruskan informasi yang beredar mengenai 60 ribu mahasiswa yang mundur dari PTN karena angka tersebut merupakan data tahun 2025.
"Data tahun sekarang justru lebih mengejutkan. Data sementara menunjukkan lebih dari 107 ribu calon mahasiswa belum melakukan daftar ulang, dan angkanya masih bisa bertambah," ujarnya.
Ia menjelaskan, penyebab mahasiswa batal melanjutkan kuliah sangat beragam. Selain faktor ekonomi dan tingginya UKT, banyak mahasiswa yang merasa jurusan yang diterima bukan merupakan pilihan sesuai minat mereka.
Berdasarkan pengalamannya sebagai dosen sekaligus hasil riset yang dilakukan, Prof. Suharno menilai persoalan salah jurusan menjadi akar masalah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
"Hanya sekitar 30 persen mahasiswa yang menjadikan jurusan yang ditempuh sebagai pilihan pertama. Sisanya merupakan pilihan kedua atau ketiga. Artinya, banyak yang sebenarnya tidak sesuai dengan passion mereka," jelasnya.
Menurutnya, generasi saat ini juga lebih berani mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan kuliah apabila merasa jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan cita-cita maupun minatnya.
"Anak-anak sekarang lebih berani mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman. Ketika UKT tinggi dan jurusannya juga tidak sesuai, mereka memilih mundur," katanya.
Terkait mekanisme penentuan UKT, Prof. Suharno menilai sistem yang diterapkan pemerintah pada dasarnya sudah memiliki dasar penilaian berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Namun, ia mengakui masih diperlukan evaluasi agar penetapan UKT dapat lebih mencerminkan kemampuan masyarakat.
"Secara mekanisme sebenarnya sudah ada. Tetapi faktanya masih banyak keluarga yang merasa berat, sehingga pemerintah perlu mengkaji kembali mekanisme penetapan UKT," ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai persoalan salah jurusan tidak lepas dari proses pendampingan siswa sejak di bangku SMA. Menurutnya, banyak sekolah masih berorientasi pada tingginya angka kelulusan siswa ke PTN dibanding memastikan jurusan yang dipilih benar-benar sesuai dengan potensi peserta didik.
"Jangan hanya mengejar yang penting diterima di PTN. Yang lebih penting adalah diterima di jurusan yang sesuai passion. Di situlah semangat belajar akan tumbuh," ucapnya.
Di akhir perbincangan, Prof. Suharno mengajak para orang tua untuk tetap mendorong anak melanjutkan pendidikan tinggi tanpa terpaku pada status PTN atau perguruan tinggi swasta. Ia menegaskan bahwa masa depan seseorang lebih ditentukan oleh semangat belajar dan kesesuaian bidang yang dipilih.
"Masa depan anak-anak kita tidak ditentukan semata-mata oleh nama besar kampus, tetapi oleh api semangat belajar di dalam dirinya. Kuliahlah sesuai passion, karena di sanalah kreativitas dan masa depan akan berkembang," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....