Sukmakarta Siapkan Ruang Aman bagi Musisi Muda Solo
- 23 Jul 2026 19:51 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Berangkat dari keresahan terhadap minimnya ruang berkarya bagi musisi muda, sejumlah musisi di Kota Solo membentuk Komunitas Sukmakarta sebagai wadah untuk mendampingi generasi muda menciptakan karya musik orisinal sekaligus membangun ekosistem musik yang lebih sehat. Dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta pada Selasa, 21 Juli 2026, Pendiri Sukmakarta, Bjeou, menjelaskan komunitas tersebut lahir dari obrolan santai para musisi yang ingin menghadirkan perubahan bagi dunia musik di Solo.
Menurutnya, fokus utama komunitas bukan hanya mengumpulkan musisi, tetapi juga menyiapkan regenerasi. "Kita ingin ada wadah supaya bisa berkegiatan dan mengekspresikan apa yang kita inginkan untuk ekosistem musik di Solo Raya. Yang paling penting sebenarnya soal regenerasi," ujar Bjeou.
Ia menilai banyak band pelajar masih sebatas membawakan lagu orang lain. Karena itu, Sukmakarta mendorong anak-anak SMP dan SMA agar berani menciptakan lagu mereka sendiri.
Sementara itu anggota yang lain, Rio mengatakan nama Sukmakarta memiliki makna jiwa yang berkarya. Filosofi tersebut diwujudkan dengan memberikan ruang yang aman bagi generasi muda untuk bebas berekspresi tanpa takut dihakimi.
"Keinginan kita sederhana, memberi ruang yang aman buat mereka berkarya dan menghasilkan sesuatu yang keluar dari diri mereka sendiri," ucapnya. Menurutnya, komunitas juga ingin menghidupkan kembali semangat lahirnya lagu-lagu anak yang diciptakan langsung oleh anak-anak, sesuatu yang kini semakin jarang ditemukan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya Music Lab, sebuah workshop penciptaan lagu bagi pelajar SMP dan SMA. Dalam program ini, peserta diajak menggali ide, berdiskusi, hingga menghasilkan lagu hasil karya sendiri.
Selain itu, Sukmakarta juga dipercaya mendampingi peserta Jambore Sekolah Ekologis Nasional yang diselenggarakan Yayasan Gita Pertiwi. Dalam waktu sekitar satu jam, hampir 100 peserta berhasil menciptakan empat lagu bertema lingkungan yang kemudian dipentaskan secara langsung.
Tak berhenti pada proses kreatif, Sukmakarta turut mendampingi para musisi muda mulai dari proses rekaman, distribusi karya ke platform digital, hingga strategi perilisan lagu. Bagi salah satu anggota sukmakarta, Jonathan, musik merupakan bahasa universal yang mampu menyampaikan nilai-nilai positif sekaligus menjadi media pemberdayaan generasi muda.
"Music is language. Musik itu bahasa yang universal yang bisa dipakai untuk membagikan sesuatu yang positif," ujarnya.
Ia menambahkan, Sukmakarta sengaja hadir sebagai ruang yang bebas dari budaya senioritas yang selama ini kerap menghambat perkembangan musisi muda. "Kami sebisa mungkin kasih ruang yang aman. Mereka bukan hanya dibantu secara teknis, tapi juga didampingi untuk jenjang karier mereka ke depan," jelas Jonathan.
Meski perkembangan teknologi membuat proses produksi dan distribusi musik semakin mudah. Para narasumber sepakat tantangan terbesar saat ini adalah membangun ekosistem industri musik yang berkelanjutan.
Bjeou menilai persoalan utama bukan lagi jumlah musisi, melainkan bagaimana karya mereka dapat dikenal publik. "Lagu sebenarnya makin banyak. Tantangannya sekarang bagaimana karya itu bisa didistribusikan dan dikenal masyarakat," ujarnya.
Ke depan, Sukmakarta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik komunitas, lembaga, pemerintah, maupun sektor swasta. Komunitas ini juga bercita-cita memiliki ruang kreatif yang menjadi tempat berkumpul, belajar, berkarya, hingga mendokumentasikan perjalanan musik lokal di Solo.
Bagi para pendirinya, Sukmakarta bukan sekadar komunitas musik, melainkan ruang aman yang memberi harapan baru bagi lahirnya generasi musisi muda yang kreatif, mandiri, dan berani berkarya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....