Braille, Jembatan Literasi bagi Penyandang Tunanetra
- 24 Jun 2026 13:03 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Braille merupakan sistem tulisan taktil yang digunakan untuk membaca dan menulis melalui sentuhan. Sistem ini terdiri dari kombinasi enam titik yang disusun dalam satu sel (dua kolom dan tiga baris). Braille dapat merepresentasikan huruf, angka, tanda baca, bahkan not musik. Memungkinkan akses literasi yang setara bagi orang dengan gangguan penglihatan.
Dilansir dari britannica Rabu (24 Juni 2026) sistem braile diciptakan oleh seorang pemuda Prancis yang mengalami kebutaan sejak kecil akibat insiden di bengkel ayahnya pada abad ke-19, ialah Louis Braille. Meski buta, Louis tetap melanjutkan pendidikannya. Hingga usia sekitar 15 tahun, ia berhasil mengembangkan sistem tulisan berbasis titik timbul yang kemudian dikenal sebagai Braille.
Sementara itu mengutip dari American Foundation for Blinds (AFB), inspirasi awal sistem braille adalah kode taktil “Ecriture Nocturne” (tulisan malam) yang diciptakan oleh Charles Barbier. Sebuah sistem yang digunakan para prajurit untuk berkomunikasi di malam hari tanpa suara. Dinilai kurang, sistem ini kemudian dikembangkan lagi oleh Louis menjadi sistem braille saat ini.
Dalam sistem Braille, setiap karakter ditulis dalam satu sel yang terdiri dari enam titik timbul yang disusun dalam 2 baris paralel, masing-masing memiliki tiga titik. Satu sel dapat mewakili huruf, angka, tanda baca, bahkan notasi musik sekalipun. Sistem ini memiliki 64 kombinasi titik termasuk sel kosong tanpa titik.
Adanya braille tentu sangat membantu keseharian penyandang tunanetra. Saat ini Braille tidak hanya digunakan pada buku, tetapi juga pada berbagai fasilitas umum seperti tombol lift. Braille juga memberikan akses yang lebih luas terhadap informasi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari, menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. (Azzam LPU)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....