Pembelajaran Bahasa Indonesia di Pesantren: Minim Gawai, Kaya Literasi
- 22 Jun 2026 18:42 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pembelajaran Bahasa Indonesia di lingkungan pondok pesantren memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya karena penggunaan gawai dibatasi, bahkan di beberapa pesantren tidak diperkenankan dalam keseharian santri. Keterbatasan akses terhadap gawai membuat guru tidak dapat mengandalkan aplikasi digital maupun sumber belajar daring yang kini banyak digunakan di sekolah umum.
Hal itu dikatakan Guru Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren NDM Surakarta, Alfi Syahidah Dyah Puspitasari, S.Pd., dalam Obrolan Komunitas pro 1, Kamis 11 Juni 2026 lalu. Namun kondisi tersebut justru menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk membangun pembelajaran yang lebih fokus dan mendalam.
"Guru dituntut lebih kreatif memanfaatkan metode konvensional seperti diskusi, membaca buku, presentasi, dan praktik berbahasa agar pembelajaran tetap menarik," ujar Alfi.
Pemerhati Pembelajaran bahasa Indonesia Lintas Jenjang tersebut mengatakan, minimnya distraksi digital memberikan keuntungan tersendiri bagi proses pembelajaran bahasa di pesantren. Alfi menilai interaksi langsung antarsantri menjadi lebih intens sehingga kemampuan berbicara, berdiskusi, dan memahami bacaan dapat berkembang dengan lebih baik.
Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS ini mengatakan tantangan berikutnya adalah menumbuhkan minat baca dan menulis dengan memaksimalkan sumber belajar yang tersedia di lingkungan pesantren. Menurut Alfi, perpustakaan, kitab, buku sastra, dan berbagai bahan bacaan lainnya menjadi modal penting untuk memperkaya kosakata dan meningkatkan pemahaman teks.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di pesantren juga berperan menjembatani kemampuan berbahasa santri yang sehari-hari akrab dengan bahasa daerah, bahasa Arab, maupun bahasa asing lainnya. "Kami berupaya membiasakan santri menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik untuk kebutuhan akademik maupun ketika berinteraksi di masyarakat," katanya.
Lebih dari sekadar meningkatkan kemampuan literasi, pembelajaran Bahasa Indonesia di pesantren juga menjadi sarana pembentukan karakter. Alfi menjelaskan bahwa melalui kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, dan mengapresiasi karya sastra, santri dilatih untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, serta berkomunikasi secara santun.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, pengalaman pembelajaran di pesantren menunjukkan bahwa kualitas literasi tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan perangkat digital. "Interaksi langsung, budaya membaca, kedisiplinan belajar, dan pendampingan guru tetap menjadi kunci dalam membangun kemampuan berbahasa yang kuat," ucap Alfi. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....