Tantangan Mengajar Bahasa Indonesia pada Anak Sekolah Dasar di Era Multibahasa
- 22 Jun 2026 21:59 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Mengajar Bahasa Indonesia kepada siswa sekolah dasar saat ini menghadapi tantangan yang semakin beragam. Guru tidak hanya bertugas mengenalkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun fondasi literasi yang menjadi dasar pembelajaran seluruh mata pelajaran di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat.
Menurut Dewi Wahyu Utami, S.Pd., Pemerhati Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Obrolan Komunitas, Kamis 11 juni 2026 , salah satu tantangan yang dihadapi adalah rendahnya minat baca sebagian siswa. “Kehadiran gawai dan beragam hiburan digital membuat anak lebih tertarik pada konten visual dan audiovisual dibandingkan membaca buku,” kata Dewi. Kondisi ini berdampak pada kemampuan memahami bacaan, memperkaya kosakata, serta mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak.
Dewi mengatakan guru juga menghadapi perbedaan kemampuan literasi yang cukup lebar dalam satu kelas. “Ada yang lancar membaca dan paham isi bacaan dengan baik, namun ada juga yang masih mengalami kesulitan mengenali kata dan memahami makna teks sederhana,” ujarnya. Perbedaan tersebut menuntut guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Selain itu, penggunaan bahasa yang berkembang di media sosial turut memengaruhi kemampuan berbahasa siswa. Kebiasaan menggunakan singkatan, campuran bahasa, maupun istilah yang tidak sesuai kaidah sering terbawa ke lingkungan sekolah. Guru perlu memberikan pemahaman bahwa bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari memiliki konteks berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam pembelajaran dan penulisan formal.
Tantangan lain datang dari lingkungan keluarga yang menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari. “Meskipun bahasa daerah adalah kekayaan budaya yang harus dilestarikan, sebagian siswa memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah,” ucap Dewi. Di sisi lain, semakin banyak orang tua yang mengenalkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini sehingga anak tumbuh dalam lingkungan multibahasa.
Menurut Dewi Wahyu Utami, S.Pd., yang juga mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS, kondisi tersebut sebenarnya bukan hambatan apabila dikelola dengan tepat. "Bahasa ibu, Bahasa Indonesia, dan bahasa asing tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya dapat berkembang secara berdampingan sesuai fungsi masing-masing. Yang terpenting, Bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi literasi dan bahasa akademik yang dikuasai anak dengan baik," ujarnya. Dewi menambahkan bahwa guru perlu membantu siswa memahami kapan menggunakan bahasa yang santai dan kapan harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah.
Lebih lanjut, Dewi menilai keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia memerlukan dukungan semua pihak, termasuk keluarga. "Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Kebiasaan membaca buku, berdiskusi, dan berkomunikasi yang baik di rumah akan sangat membantu perkembangan kemampuan berbahasa anak," katanya. Ia menekankan bahwa pembelajaran perlu dikemas secara menarik melalui dongeng, permainan bahasa, membaca nyaring, menulis cerita sederhana, hingga pemanfaatan teknologi edukatif. Dengan demikian, tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya membuat siswa mampu membaca dan menulis, tetapi juga memahami informasi, berpikir kritis, serta mampu berkomunikasi secara santun dalam kehidupan bermasyarakat. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....