Mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan Tantangannya
- 22 Jun 2026 18:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asli. Dalam kelas BIPA, peserta didik tidak hanya belajar kosakata dan tata bahasa, tetapi juga mempelajari budaya, kebiasaan, serta konteks sosial masyarakat Indonesia yang melekat dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
Menurut Kenes Ratu Pawestri, S.Pd., Pengajar BIPA dan Pemerhati Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Obrolan Komunitas, Kamis 11 Juni 2026 , salah satu pengalaman yang paling berkesan selama mengajar BIPA adalah menghadapi peserta didik dari berbagai negara dengan latar bahasa dan budaya yang sangat berbeda. "Setiap peserta didik memiliki cara belajar yang unik. Ada yang cepat memahami tata bahasa, tetapi kesulitan dalam pelafalan. Ada pula yang lancar berbicara, namun masih bingung memahami konteks budaya di balik sebuah ungkapan," ujarnya.
Kenes mengatakan salah satu tantangan utama dalam pembelajaran BIPA adalah keberagaman latar belakang peserta didik. Mereka datang dari berbagai negara dengan bahasa ibu, budaya, dan sistem bahasa yang berbeda-beda. Perbedaan ini memengaruhi cara mereka memahami kosakata, struktur kalimat, pelafalan, hingga makna suatu ungkapan. Guru dituntut mampu menyesuaikan metode pembelajaran agar dapat diterima oleh peserta didik dari berbagai latar belakang tersebut.
Kenes, yang juga Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS ini mengungkapkan bahwa dalam proses pembelajaran, ia sering menemukan peserta didik yang merasa kesulitan membedakan penggunaan bahasa formal dan nonformal.
"Mereka belajar Bahasa Indonesia yang baku di kelas, tetapi ketika berinteraksi dengan masyarakat, mereka menemukan banyak singkatan, bahasa gaul, atau campuran bahasa daerah. Di sinilah guru berperan menjembatani perbedaan tersebut agar peserta didik tidak merasa kebingungan," ucap Kenes.
Aspek budaya juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran BIPA. Banyak kata, ungkapan, atau cara berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia yang hanya dapat dipahami melalui pemahaman budaya Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran sering kali tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengenalan tradisi, kuliner, seni, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung.
Kenes menilai bahwa kegiatan di luar kelas justru menjadi momen yang paling efektif untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia. "Dari pengalaman saya, ketika peserta BIPA berkunjung ke pasar tradisional, mencicipi kuliner khas, atau mengikuti kegiatan budaya, mereka lebih mudah memahami bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan," katanya.
Selain itu, motivasi belajar peserta BIPA juga sangat beragam. Ada yang belajar Bahasa Indonesia untuk kepentingan akademik, penelitian, pekerjaan, diplomasi, bisnis, pariwisata, hingga karena ketertarikan terhadap budaya Indonesia. Perbedaan tujuan ini menuntut guru untuk merancang materi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Di era globalisasi, pembelajaran BIPA memiliki peran strategis dalam memperkenalkan Bahasa Indonesia ke dunia internasional dan bangga karena sudah 61 negara memasukkan Bahasa Indonesia menjadi matakuliah yang menentukan kelulusan,”ujarnya. Semakin banyak warga negara asing yang mempelajari Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki nilai penting dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya, maupun hubungan antarbangsa.
"Bagi saya, mengajar BIPA bukan sekadar mengajarkan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia. Ketika peserta didik asing mulai memahami bahasa dan budaya kita, di situlah peran diplomasi budaya melalui pendidikan benar-benar terasa," ucap Kenes.
Pada akhirnya, pengajaran BIPA memiliki tantangan sekaligus peran yang sangat istimewa. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik asing tidak hanya belajar berbicara dan menulis, tetapi juga memahami nilai-nilai, keberagaman, dan kekayaan budaya Indonesia yang menjadi wajah bangsa di mata dunia. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....