Disiplin di Perlintasan Sebidang: Bukan Sekadar Soal Pengetahuan Aturan

  • 09 Mei 2026 12:30 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Perilaku masyarakat yang masih nekat melintas di perlintasan sebidang sangat disayangkan. Meski telah ada peringatan petugas, bunyi klakson kereta, hingga edukasi keselamatan berulang, sikap ini dinilai tidak hanya dipengaruhi minimnya pengetahuan aturan, tetapi juga faktor psikologis manusia dalam mengambil keputusan.

Psikolog peraih Nobel bidang ekonomi perilaku, Daniel Kahneman menjelaskan manusia kerap mengambil keputusan cepat berdasarkan intuisi dan kebiasaan. Dalam situasi tertentu, seseorang merasa masih memiliki waktu untuk melintas sebelum kereta datang, padahal perhitungan tersebut sering kali keliru.

Sementara itu, pakar psikologi kognitif Amos Tversky melalui kajian bias kognitif menyebut manusia cenderung merasa risiko kecelakaan lebih mungkin menimpa orang lain dibanding dirinya sendiri. Kondisi itu membuat sebagian pengguna jalan tetap berani mengambil risiko meski telah mengetahui bahayanya.

Faktor lingkungan sosial juga dinilai memengaruhi perilaku pengguna jalan. Psikolog sosial Albert Bandura menyebut manusia belajar dari pengamatan terhadap perilaku orang lain. Ketika satu pengendara menerobos palang perlintasan lalu diikuti pengguna jalan lain, perilaku tersebut perlahan dianggap sebagai hal yang wajar.

Selain itu, tokoh psikologi behaviorisme B. F. Skinner menjelaskan perilaku yang berulang dan tidak menimbulkan konsekuensi langsung cenderung akan terus dilakukan. Dalam konteks perlintasan sebidang, pengendara yang beberapa kali menerobos dan tetap selamat dapat merasa tindakannya aman untuk diulang kembali.

Pengaruh kebiasaan juga menjadi perhatian dalam psikologi kognitif. Pelopor psikologi kognitif Ulric Neisser menjelaskan peringatan yang terlalu sering diterima manusia dapat menurunkan sensitivitas terhadap bahaya. Akibatnya, bunyi klakson kereta maupun alarm perlintasan tidak lagi memunculkan respons kewaspadaan yang kuat.

Para pakar menilai upaya menekan kecelakaan di perlintasan sebidang perlu dilakukan melalui kombinasi edukasi, penegakan hukum, peningkatan disiplin masyarakat, hingga pembenahan infrastruktur keselamatan. Sebab keselamatan perjalanan kereta api tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga perilaku manusia dalam merespons risiko di lapangan. (Wiwik)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....