Cuaca Panas Menyengat, Ini Penjelasan BMKG
- 26 Mar 2026 13:10 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Program Tanggap Bencana Kentongan di Pro 1 RRI Surakarta pada Selasa, 24 Maret 2026 menghadirkan dialog bersama Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, S.Tr.. Program tanggap bencana ini membahas fenomena cuaca panas yang dirasakan di Solo Raya dan sebagian besar wilayah Jawa.
Ferry menjelaskan, panas yang terjadi saat ini dipicu oleh fenomena gerak semu tahunan matahari, karena posisi matahari berada tepat di garis ekuator pada periode 21–23 Maret. Fenomena ini merupakan siklus tahunan yang wajar dan tidak berkaitan dengan El Nino maupun La Nina.
“Matahari seolah-olah bergerak dari belahan bumi selatan ke utara dan pada tanggal 21 hingga 23 Maret posisi matahari itu tepat di ekuator, sehingga panas yang kita rasakan itu lebih terasa maksimal,” katanya.
Selain faktor tersebut, minimnya tutupan awan dan kondisi musim pancaroba turut memperkuat intensitas panas. Suhu di wilayah Solo Raya tercatat mencapai 33 derajat Celsius, yang masih tergolong normal, dengan rata-rata suhu harian berkisar 30–32 derajat Celsius.
Lanjutnya, kondisi panas ini diperkirakan masih berlangsung hingga April. “Pada tanggal 21 hingga mungkin 25–26 ini akan terasa sangat menyengat, kemudian masih akan terasa panas karena masih pada musim pancaroba yaitu di bulan Maret hingga April,” ujar Ferry.
Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00–15.00 WIB. Menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya, serta memperbanyak konsumsi air putih guna menjaga kondisi tubuh.
Dari sisi dampak, cuaca panas dapat memengaruhi kesehatan seperti dehidrasi dan iritasi, serta berdampak pada sektor pertanian yang perlu menyesuaikan jadwal tanam dan pengelolaan air. Potensi kebakaran lahan juga meningkat, terutama di wilayah kering seperti Wonogiri, Sukoharjo, dan Sragen.
"Pada masa pancaroba cuaca cenderung tidak stabil, ditandai dengan kemungkinan hujan tiba-tiba, angin kencang, hingga hujan es akibat kondisi atmosfer yang labil, ucapnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Rutin memantau informasi cuaca resmi, serta tidak panik karena fenomena ini masih tergolong normal dan dapat diantisipasi dengan langkah sederhana. (CA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....