Pahlawan Nasional Slamet Riyadi, Janganlah Dilupakan
- 18 Mar 2026 09:20 WIB
- Surakarta
Masuk Kota Solo dari arah barat lewat jalan Slamet Riyadi, di ujung jalan terlihat sebuah patung besar, berseragam tentara tempo dulu mengangkat pistol untuk komando. Itulah patung Slamet Riyadi yang berdiri megah di kawasan Gladag. Brigadir Jenderal Anumerta Ignatius Slamet Riyadi yang akrab dipanggil pak Met merupakan sosok pahlawan nasional kebanggaan wong Solo, yang diabadikan namanya untuk jalan, rumah sakit dan universitas swasta.
Slamet Riyadi lahir di, Solo, pada tanggal 26 Juli 1927 dengan nama Soekamto; putra dari Raden Ngabehi Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta. Namun karena semasa kecil ia sering sakit sehingga orang tuanya memberikan nama baru Slamet Riyadi.
Menurut Ketua Solo Societiet Dani Saptoni, karakter yang sangat menonjol dari sosok Slamet Riyadi adalah muda, cakap, berani dan humanis. Keberaniannya banyak dicatat dalam sejarah, terutama setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
“Selain intektual pinter, 1946 ditetapkan sebagai komando batalyon beliau paling muda 19 tahun. Kalau bukan karena kecakapan gak mungkin. Kepemimpinan beliau akrab disapa pak Met meski banyak anak buahnya yang usia lebih tua. Selain dihormati beliau juga humanis, menghormati pada bawahan juga tegas keberanian kadang di luar batas,” kata Dani saat dihubungi rri.co.id Selasa 10 Maret 2026.
Slamet Riyadi punya jasa besar dalam berbagai pertempuran perang Kemerdekaan II.. Juga di dalam pembentukan pasukan khusus TNI AD atau yang lebih dikenal dengan nama Kopassus.
Waktu terjadi di militer di Jatingaleh, Slamet Riyadi dibilang nekad di usia muda. Dia membawa semua pasukannya dengan nekad menerobos tangki Belanda sehingga membuat nama Slamet Riyadi makin populer, “ ungkapnya lebih lanjut.
Tak lama setelah berakhirnya perang lemerdekaan , Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan merdeka dari Indonesia yang baru lahir. Slamet Riyadi dikirim ke garis depan pada tanggal 10 Juli 1950 sebagai bagian dari Operasi Senopati. Dia ditugaskan untuk menumpas pemberontakan RMS untuk merebut kembali Pulau Ambon.
Pada tanggal 4 November 1950, ketika Slamet Riyadi dan pasukannya sedang berusaha menumpas pemberontakan RMS di gerbang benteng Victoria, Ambon, sosok yang gagah berani tertembak dan gugur pada usia yang masih sangat muda 23 tahun. Jasad sang perwira muda dimakamkan di Tulehu atas permintaan masyarakat setempat. Sedangkan sebagian tanah kuburnya dibawa ke Surakarta untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Solo.
Dani Saptoni mengkisahkan, selain meninggalkan banyak cerita keberaniannya, terselip pula kisah cintanya dengan Lik Surahi sosok perempuan yang dinikahi tetapi belum memberikan keturunan. Ada versi pak Met belum nikah, namun dari catatan resmi yang tersimpan di Kodam IV Diponegoro sudah menikah. Hanya saja memang istrinya belum pernah dibawa ke rumah jadi keluarga belum tahu.
“ Lik Surahni putra Profesor Sumedi Kepala RS di Jakarta. Jadi ada kisah Slamet Riyadi ditugaskan menumpas RMS Ambon sebenarnya mau menikah tapi belum menikah. Beliau berjanji akan balik membawa bendera RMS, sebagai mas kawin dan itu dibuktikan setelah 2 bulan membawa bendera, dibawa balik trus menikah. Balik lagi ke Ambon lalu gugur,” ungkap Dani.
Slamet Riyadi merupakan sosok pahlawan besar, ironinya rumah keluarga tempat ia dibesarkan di Jogosuran Danukusuman Solo, kurang mendapat perhatian dari publik maupu pemerintah. Rumah kuno besar model Kanjengan yang dijaga cucu keponakannya.
Slamet Riyadi adalah sosok kebanggaan bukan hanya warga Solo, namun warga Indonesia. Dimanapun dia gugur dia ingin dimakamkan disitu, karena semua wilayah NKRI adalah tanah airnya. Wasiat itu sudah dilaksanakan saat pak Met gugur di Ambon. Maka sepantasnya-lah masyarakat dan semua pihak bisa menghargai jasa beliau, setidaknya dengan merawat rumah peninggalan Slamet Riyadi. ( Wida )
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....