Pengamat Lingkungan Soroti Kerja PLTSa Putri Cempo dalam Peringatan HPNS
- 23 Feb 2026 02:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Momentum Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di Kota Solo tidak hanya soal pengangkutan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan pengolahan sampah menjadi energi listrik yang belum berjalan dengan baik.
Hal itu disoroti langsung Pengamat Lingkungan, Prof. Prabang Setyono. Dihubungi melalui sambungan telepon pada Minggu, 22 Februari 2026, Prof. Prabang menilai secara kapasitas pengolahan sampah menjadi listrik di Putri Cempo Solo seharusnya mampu menampung seluruh sampah harian, namun masih belum berjalan baik.
"Kapasitas pengolahan 550 ton per-hari, itu seharusnya dari sampah Kota Solo 380 ton sudah bisa tertangani semua, bahkan itu dianggap masih kurang. Tapi kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan skenario," kata Prof. Prabang Setyono.
Prof. Prabang Setyono menjelaskan ada ketidak lancaran dalam hal penyiapan feedstock atau bahan baku dari gasifier. Sehingga kurang lebih terinfo saat ini PLTSa Putri Cempo hanya mengolah 100 ton per-hari. Bahkan dikatakan Prof. Prabang terkadang hanya 50 ton yang terolah.
Penurunan pengolahan sampah menjadi listrik ini berdampak pada penimbunan sampah sisanya di lokasi Blok D yang memang dianggap bukan menjadi open dumping. Menurutnya Prof. Prabang Setyono juga, hal itu yang menjadi penyebab penumpukan kendaraan sampah pada waktu lalu.
"Dampaknya kalau turun kan otomatis dari 380 ton sampah yang tidak terolah ditumpuk ke Blok D. Sehingga dampaknya satu terjadi antrean dan itu hal yang lumrah bagi saya. Blok D itu sebenernya tidak disiapkan untuk open dumping full. Itu hanya untuk sampah yang memang sudah siap diproses," katanya menambahkan.
Kendala-kendala teknis khususnya pemisahan sampah menjadi salah satu penyebab mesin PLTSa masih belum berjalan dengan baik seperti yang diharapkan. Dirinya berharap masyarakat tidak hanya berfokus pada pembuangan sampah tetapi juga memilah dan memilih sebelum dibuang.
Prof. Prabang Setyono menjekaskan sebenernya PLTSa Putri Cempo juga memiliki alat untuk memisahkan sampah yang bisa terolah menjadi listrik dan tidak, namun memerlukan waktu yang cukup lama dari proses pemisahan hingga pengeringan sampah yang berair karena sebelumnya tercampur.
Diharapkan ke depan masyarakat bisa ikut turun dalam mempersiapkan sampah-sampah yang bisa diolah mesin PLTSa dan juga tidak. Agar memberikan kemudahan dalam pengolahan menjadi energi listrik. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....