Disiplin Keselamatan Saat Turun Gunung Krusial Bagi Pendaki

  • 28 Jan 2026 00:37 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Fenomena pendaki gunung yang hilang atau mengalami kecelakaan saat turun bukanlah kejadian acak, melainkan pola yang berulang dan terdokumentasi dalam berbagai data pencarian dan pertolongan (SAR). Sejumlah laporan menunjukkan bahwa fase turun gunung justru menjadi momen paling rawan dibandingkan saat pendakian menuju puncak, karena kombinasi kelelahan fisik, penurunan fokus, serta kesalahan navigasi.

Data dari jurnal ilmiah BMJ Open Sport & Exercise Medicine, yang menganalisis ribuan kecelakaan pendakian di Pegunungan Alpen berdasarkan catatan Austrian Alpine Police dan riset University of Innsbruck, menunjukkan sekitar 75 persen kecelakaan akibat jatuh terjadi saat pendaki sedang turun gunung. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa risiko tidak berakhir setelah puncak tercapai, melainkan justru meningkat saat perjalanan kembali.

Sementara itu, laporan tahunan Scottish Mountain Rescue (SMR) organisasi SAR berbasis relawan di Skotlandia—mencatat bahwa penyebab utama operasi penyelamatan adalah pendaki yang tersesat (lost), salah navigasi, serta tergelincir (slip/trip). Dalam laporan tahunannya, puluhan kasus tersesat tercatat setiap tahun, dengan mayoritas terjadi pada aktivitas hillwalking dan mountaineering yang melibatkan jalur turunan panjang dan medan tidak rata.

Menurut analisis tim rescue, kondisi fisik pendaki yang sudah lelah saat turun berkontribusi besar terhadap menurunnya kemampuan membaca jalur dan mengambil keputusan. Banyak pendaki mengandalkan ingatan jalur saat naik, padahal sudut pandang visual saat turun berbeda dan sering kali membingungkan, terutama di jalur bercabang, hutan rapat, atau saat kabut turun.

Faktor psikologis juga menjadi perhatian serius. Tim SAR mencatat dua pola ekstrem yang sama-sama berbahaya, yakni kepanikan saat mulai ragu jalur dan rasa terlalu percaya diri karena merasa pernah melewati rute yang sama. 

Dalam banyak kasus, pendaki tetap melanjutkan perjalanan meski sudah tidak yakin berada di jalur benar. Kondisi ini berdampak jarak dari rute resmi semakin jauh dan proses pencarian menjadi lebih sulit.

Di tingkat global, UIAA (International Climbing and Mountaineering Federation) mengembangkan basis data internasional yang mengompilasi laporan kecelakaan dan insiden pendakian dari berbagai negara dan organisasi rescue. Database ini menegaskan bahwa kasus tersesat, terjatuh, dan terseret medan saat turun merupakan pola umum lintas negara, bukan fenomena lokal semata.

Di Indonesia sendiri, meski Basarnas dan tim SAR gabungan rutin melakukan operasi pencarian pendaki hilang, data statistik nasional yang terpublikasi secara terstruktur masih terbatas. Namun, berbagai operasi SAR di gunung-gunung Indonesia yang dilaporkan media menunjukkan pola serupa: pendaki terakhir kali diketahui berada di jalur turun, kehilangan orientasi, lalu terjebak di medan sulit. 

Temuan-temuan ini menjadi pengingat bahwa disiplin keselamatan saat turun gunung sangat penting. Bahkan lebih krusial, dibandingkan perjuangan menuju puncak. (Wiwik)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....