Self Talk, Membangun Kesadaran Diri dan Ketahanan Psikologis
- 27 Jan 2026 05:05 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Self-talk atau dialog internal kini semakin dikenal sebagai salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan kesehatan mental. Self-talk merujuk pada percakapan batin yang terus berlangsung di dalam diri seseorang, baik disadari maupun tidak, dan berpengaruh besar terhadap emosi, cara berpikir, serta perilaku sehari-hari.
Menurut Dr. Aan Budi Susanto, CHt—Life Coach, Hypnotherapist, Behavior Consultant, dan Educator Kesehatan Mental dalam berbagai konten di akun media sosialnya, self-talk dipahami sebagai jembatan antara pikiran sadar dan bawah sadar. Kalimat-kalimat yang berulang, terutama saat emosi aktif atau tubuh dalam kondisi rileks, dapat menjadi sugesti yang membentuk respons mental jangka panjang.
Dr Aan menekankan self-talk bukan sekadar kata-kata positif, melainkan alat komunikasi internal yang menentukan cara seseorang memaknai pengalaman hidupnya.Tujuan utamanya adalah membantu individu mengelola pikiran dan emosi agar lebih adaptif.
Dengan self-talk yang tepat, seseorang dapat menghentikan reaksi impulsif, menenangkan sistem saraf, serta mengarahkan diri pada respons yang lebih rasional. Dalam konteks pendampingan dan coaching, self-talk juga berfungsi sebagai sarana membangun kesadaran diri dan kepemimpinan personal.
Praktik ini terbukti membantu menurunkan kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperkuat ketahanan psikologis. Selain itu, self-talk berperan penting dalam penyembuhan luka emosional, karena membantu individu menutup pengalaman sulit dengan narasi yang lebih sehat dan penuh penerimaan diri.

Secara historis, konsep self-talk muncul dari berbagai tokoh seperti Albert Ellis dan Aaron T. Beck yang dikenal sebagai tokoh penting dalam psikologi kognitif yang menekankan peran dialog internal terhadap emosi dan perilaku. Sementara itu, Émile Coué dan Milton H. Erickson memberikan fondasi autosugesti dan bahasa hipnotik yang memperkaya praktik self-talk modern.
Praktek self talk diawali dengan menyadari dialog batin yang muncul, menenangkan tubuh melalui napas, lalu gunakan kalimat internal yang positif dengan bahasa yang realistis dan menenangkan. Self-talk dilakukan dengan kalimat pendek, nada lembut, dan pengulangan secukupnya, agar dapat diterima oleh pikiran bawah sadar. Idealnya dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur, saat emosi mulai meningkat, setelah kejadian emosional, serta sebelum tidur di malam hari.
Self-talk pada dasarnya dapat dilakukan oleh hampir semua orang, mulai dari masyarakat umum, relawan, pekerja tekanan tinggi, hingga pendamping orang lain. Meski demikian, pada kondisi gangguan mental berat, praktik ini perlu dilakukan dengan pendampingan profesional untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas respons manusia di tengah dinamika kehidupan modern. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....