Dari Tiga Gedung di Jakarta Lahir Ikrar Persatuan
- 27 Okt 2025 07:10 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Tahukah kamu bahwa Sumpah Pemuda, tonggak persatuan bangsa Indonesia, ternyata tidak lahir di satu tempat, melainkan di tiga gedung berbeda di Jakarta? Dari ruang-ruang sederhana itulah, para pemuda Indonesia dari berbagai daerah bersatu untuk menegaskan satu tekad: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.
Berdasarkan keterangan dari laman resmi Museum Sumpah Pemuda, peristiwa bersejarah itu berawal dari gagasan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), yaitu sebuah organisasi yang beranggotakan pelajar dari berbagai wilayah Nusantara di masa penjajahan. Mereka memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan menyatukan pemuda-pemudi Indonesia dalam satu cita-cita kemerdekaan.
Sebelum Kongres Pemuda Kedua terlaksana, para pemuda mengadakan dua kali pertemuan pendahuluan, pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928. Pertemuan itu membahas pembentukan panitia, penyusunan acara, serta penggalangan dana.
Menariknya, seluruh biaya kegiatan ditanggung secara swadaya melalui iuran dan sumbangan sukarela antar organisasi pemuda. Ini sebuah cerminan semangat mandiri dan gotong royong yang kuat di kalangan generasi muda kala itu.
Kongres Pemuda Kedua berlangsung selama dua hari, 27–28 Oktober 1928, dan dibagi ke dalam tiga sesi rapat di tiga tempat berbeda:
1. Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) menjadi tempat berlangsungnya rapat pertama. Ketua kongres Sugondo Djojopuspito membuka acara dengan ajakan agar perpecahan di antara anak bangsa segera diakhiri. Mohammad Yamin dalam pemaparannya menekankan lima hal penting yang memperkuat persatuan bangsa: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
2. Gedung Oost Java Bioscoop menjadi lokasi rapat kedua. Dalam sesi ini, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro membahas pentingnya pendidikan kebangsaan bagi anak-anak Indonesia. Menurut mereka, pendidikan harus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menanamkan nilai demokrasi, baik di rumah maupun di sekolah.
3. Rapat terakhir diselenggarakan di Indonesische Clubgebouw (Kramat No. 106), yang kini dikenal sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Di sana, Soenario, Ramelan, dan Theo Pangemanan berbicara tentang pentingnya gerakan kepanduan dalam menanamkan disiplin dan semangat kebangsaan. Theo bahkan menegaskan, “Pramuka tanpa semangat kebangsaan bukanlah Pramuka.”
Puncak kongres terjadi ketika Wage Rudolf Supratman memperdengarkan untuk pertama kalinya lagu ciptaannya, “Indonesia Raya,” menggunakan biola. Lagu itu belum dinyanyikan, hanya dimainkan secara instrumental untuk menghindari kecurigaan pemerintah kolonial. Namun, lantunannya menggugah semangat peserta kongres dan menandai lahirnya simbol persatuan bangsa Indonesia.
Menjelang penutupan, Sugondo Djojopuspito membacakan putusan kongres yang dirumuskan oleh Mohammad Yamin. Tiga butir ikrar tersebut kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Ketiga ikrar itu menegaskan bahwa pemuda Indonesia mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung satu bahasa persatuan.
Istilah Sumpah Pemuda sendiri baru digunakan setelah kongres usai, ketika masyarakat dan media menyebut keputusan tersebut sebagai ikrar kebangsaan.
Peristiwa sederhana yang terjadi di tiga gedung itu ternyata menjadi titik balik sejarah yang mengubah arah perjuangan bangsa Indonesia. Para pemuda 1928 berhasil menyalakan kesadaran bahwa kemerdekaan hanya bisa diraih melalui persatuan dan kesamaan tujuan.
Kini, setiap 28 Oktober, gema biola Wage Rudolf Supratman seolah kembali terdengar, mengingatkan kita bahwa semangat persatuan adalah nyawa bangsa. Dan dari tiga gedung di Jakarta itulah, lahir sebuah ikrar yang tak pernah padam: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, yaitu Indonesia. (Dinar Rusydiana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....