Sekaten Paduan Budaya dan Religi Surakarta dan Yogyakarta

  • 31 Agt 2025 06:32 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Masyarakat di dua kota pusat budaya Jawa, Surakarta dan Yogyakarta, kembali diselimuti suasana berbeda. Tradisi Sekaten, sebuah perayaan tahunan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kalender budaya, kembali digelar.

Perayaan ini bukan sekadar pasar malam biasa, melainkan sebuah ritual sakral yang menggabungkan unsur budaya, sejarah, dan nilai-nilai religius. Sekaten diselenggarakan sebagai peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Dikutip dari bobo.grid.id, nama Sekaten konon berasal dari kata Syahadatain, dua kalimat syahadat yang merupakan inti ajaran Islam. Di masa lampau, perayaan ini menjadi salah satu cara para wali untuk menyebarkan agama Islam.

Suara gamelan yang bergema dan suasana pasar menjadi daya tarik, mendorong masyarakat untuk datang dan belajar tentang Islam. Di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, puncak perayaan Sekaten ditandai dengan dikeluarkannya dua set gamelan pusaka, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga.

Gamelan ini dibunyikan di halaman keraton selama beberapa hari, mengundang ribuan pengunjung yang ingin mendengarkan alunan musik tradisional tersebut. Bagi masyarakat, mendengarkan gamelan Sekaten diyakini membawa berkah dan ketenangan batin.

Salah satu daya tarik utama Sekaten adalah pasar malamnya. Selama berhari-hari, area di sekitar keraton dipenuhi oleh pedagang yang menjual berbagai macam barang, mulai dari makanan tradisional seperti Nasi Liwet dan Sate Kere, hingga mainan anak-anak dan pernak-pernik unik. Pasar malam ini menjadi magnet bagi warga lokal maupun wisatawan, menciptakan atmosfer yang ramai dan penuh kegembiraan.

Tradisi lain yang sangat dinantikan adalah Grebek Maulud. Acara ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian Sekaten.

Di Keraton Surakarta, prosesi Grebek Maulud melibatkan arak-arakan gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Gunungan ini kemudian diperebutkan oleh masyarakat, yang meyakini bahwa gunungan tersebut membawa berkah dan kemakmuran.

Sekaten bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang pelestarian nilai-nilai luhur. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga warisan budaya, menghormati sejarah, dan memperkuat tali persaudaraan. Meskipun zaman terus berubah, semangat Sekaten tetap hidup, menjadi pengingat akan kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.(Aditya Wardhana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....