Jenis Sandal Wanita Khas Jepang dan Cara Memakainya

  • 30 Mar 2025 22:06 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Jepang terkenal dengan karya seni dan tradisi yang unik dan sangat kuat. Selain seni melipat kertas origami dan seni merangkai bunga ikebana, ada lagi yang unik dan memiliki fungsi dan tatacara memakainya, yaitu sandal.

Dalam buku "Japanese Costume and Textile Arts" tulisan Seiroku Noma yang membahas pakaian dan alas kaki tradisional Jepang, dijelaskan sandal tradisional wanita khas Jepang ada beberapa jenis, di antaranya adalah Zori , sandal dengan bentuk datar, biasanya terbuat dari jerami tatami, kain, atau kulit sintetis. Zori sering dipakai dengan kimono atau yukata, terutama dalam acara formal.

Geta yaitu sandal kayu dengan dua "gigi" di bagian bawahnya, yang memberikan ketinggian tambahan. Geta sering digunakan dengan yukata dan memiliki berbagai desain, dari yang sederhana hingga yang dihiasi dengan ukiran.

Geta awalnya dirancang agar orang bisa berjalan di jalanan tanah atau berlumpur tanpa mengotori kimono mereka. (Foto: Freepik)

Jenis lainnya adalah Okobo, dikenal sebagai pokkuri atau koppori, sandal ini memiliki sol kayu tebal tanpa "gigi" seperti geta, biasanya dipakai oleh maiko (calon geisha) dan sering kali memiliki lonceng kecil di dalamnya. Dan jenis Setta bentuknya mirip dengan zori tetapi memiliki sol kulit dan sering digunakan oleh pria, meskipun ada juga setta yang dibuat untuk wanita dengan desain yang lebih halus.

Setiap jenis sandal memiliki fungsi dan kesempatan pemakaian yang berbeda. Sandal tradisional Jepang seperti zori, geta, dan okobo sudah digunakan sejak zaman kuno.

Seperti Zori yang mulai digunakan sejak Periode Heian (794–1185), terutama oleh kalangan bangsawan dan pendeta. Bentuknya berkembang menjadi lebih formal pada Periode Edo (1603–1868) dan banyak dipakai dengan kimono, berbahan kain atau vinil sering dipadukan dengan kimono formal seperti furisode atau tomesode. Dipakai dalam acara formal seperti pernikahan, upacara teh, dan upacara kedewasaan (Seijin Shiki).

Geta berasal dari Periode Nara (710–794), tetapi lebih populer pada Periode Edo. Geta awalnya dirancang agar orang bisa berjalan di jalanan tanah atau berlumpur tanpa mengotori kimono mereka. Masih populer dalam festival musim panas (matsuri) dan saat mengenakan yukata. Misalnya, banyak orang memakai geta saat menghadiri festival kembang api (hanabi taikai) atau mengunjungi kuil saat Tahun Baru (Hatsumode).

Sementara Okobo diperkirakan mulai digunakan pada Periode Edo, khususnya oleh maiko (calon geisha). Okobo dirancang untuk memberikan postur tubuh yang elegan dan menambah daya tarik visual dan hanya dipakai oleh maiko (calon geisha) dalam kehidupan sehari-hari mereka di distrik geisha seperti Gion, Kyoto. Okobo menjadi bagian dari identitas mereka dan mencerminkan tingkat pelatihan mereka.

Kalau Setta diperkenalkan pada Periode Edo, awalnya dipakai oleh samurai sebelum akhirnya digunakan secara luas oleh masyarakat umum. Meskipun lebih umum dipakai oleh pria, beberapa wanita juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam seni bela diri atau saat mengenakan kimono kasual. Selain dalam acara tradisional, sandal-sandal ini juga diadaptasi ke dalam fashion modern, dengan desain yang lebih nyaman untuk pemakaian sehari-hari. (Wiwik)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....