Makna Filosofi Sinduran dalam Upacara Adat Jawa
- 26 Mar 2025 09:16 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Sinduran adalah salah satu prosesi pernikahan adat Jawa, yaitu pengalungan kain oleh orang tua pengantin wanita kepada kedua mempelai dengan kain sindur. Biasanyan kain yang umumnya digunakan berwarna merah dan putih.
Dikutip dari laman https://invi.id/blog/sinduran/ Rabu(26/3/2025) Kain warna merah melambangkan mempelai wanita, sementara warna putih melambangkan mempelai pria. Kombinasi warna ini kerap disebut gula klapa, sebagai simbol keakraban dan kasih sayang dalam membangun rumah tangga.
Kain sindur juga menjadi simbol perlindungan, yang diletakkan di punggung kedua mempelai, seolah orang tua terutama ibu sang mempelai wanita sedang memayungi dan melindungi mereka.
Dengan demikian, sinduran merupakan refleksi dari kolaborasi sempurna antara kekuatan laki-laki dan kelembutan perempuan. Perpaduan itu diharapkan menciptakan harmoni yang berkelanjutan.
Dalam proses upacara tersebut, ibu pengantin wanita akan berdiri di belakang sambil memegang kain sindur. Sementara ayah pengantin berjalan di depan menuntun kedua mempelai menuju pelaminan.
Sinduran sendiri mempunyai makna filosofi “isin mundur,” yang berarti pantang mundur dalam menghadapi tantangan hidup dalam berumah tangga. Diharapkan kedua mempelai saling mendukung satu sama lain, serta mendapat restu dan doa dari orang tua untuk memulai babak baru kehidupan.(Aris_LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....